Rabu, 23 Januari 2013

Karena kita, adalah Pemuda!


Bangunan besar nan luas terhampar mega di depan
Kuat, kokoh, dan tak mudah goyah
layaknya dongeng, penuh cerita klasik disini, di tanah ini.
Dari yang buat tawa, hingga pilu kecewa tiada tara
Maka, di lembaran ini, ku mulai kisah istimewa
Penuh suka, tapi tetap tangis pilu ada disekitarnya
Di sini, Kampus hijau tercinta, semua tawa berbungkus duka, dan lara bercampur canda

Mari sejenak berfikir kawan..
Berbekal doa dan harapan ayah bunda, kita bersama menuai ilmu.. disini
Di tempat.. yang harusnya kecoapun tak ada
‘Raihlah  ilmu, agar kau jadi pembesar’, katanya
‘Hah, gusar mendengar kata pembesar, mak’
‘Mereka yang berdasi kian menjadi belut penghantar maut’ kataku
Kian sulit terjamahi, oleh kita yang menggaji
Para birokrasi seakan menari
Melihat kami tertindih
Dengan biaya yang menjulang tinggi
Adakah mereka peduli ?
Ya, semoga.

Mari sejenak berfikir, kawan..
Untuk apa kita disini ?
Datang, lalu pulang. Itu sajakah ?
Tidak. Sekali-kali tidak.
Sadarlah wahai..
Kita pemuda, bisa merubah semua !
Hitam kelam menjadi cerah nan mewah
Sedih merintih menjadi tawa membuncah
Ya, kitalah yang merubah
Tabiat kekotoran hentikan sampai disini.
Tak ada celah untuk mengeluh, wahai kawan..
Bung Karno, rela mengabadikan mu dalam sebaris kalimatnya
“Beri aku 10 pemuda, maka akan aku ubah dunia..”
Tak terpanggilkah engkau,  kita, wahai pemuda ?
Jangan mudah terbuai oleh retorika mereka, kawan..
Yang terlihat seperti manipulasi birokrasi
Mari jadi diri sendiri, di kandang sendiri
Karena si Hijau, milik kita seutuhnya.

Maka, Wahai kalian yang rindu kemenangan
Ingatlah, Tak sebatas di tanah ini kita mengabdi
Karena, Ini bukan akhir, melainkan awal dari perjuangan.
Perjuangan merubah peradaban
Menuju kemenangan nan gemilang

Maka, wahai mahasiswa, wahai pemuda, ketahuilah
Sejatinya, kita di sini tak hanya menjadi akademisi
Yang merasa nyaman dengan buku catatan
Yang merasa kiamat jika tugas merapat
Tapi, kita juga seorang agen perubah
Yang akan selalu gerah melihat kebobrokan
Maka, di sini, di bangunan nan megah ini, mari berani memulai perubahan, menuju kemanangan gemilang..
Karena kita, adalah Pemuda!
 -nadya-

(semacam) kultwit #gigih

Malam ini ingin berbagi sedikit, ttg #kegigihan yg berujung senyuman..
Sadarkah, bhwa #kegigihan trkadang menuntut utk disapa, knp? Krna mungkin kita sering berfokus pd kata menyerah shg brgerak tanpa arah..
"Ya.. sy mah hdp sprti air mengalir sj.." -- well, dmn #kegigihan itu brsembunyi, shg mw sprti air,yg dlm hal ini slalu mncari t4 'trendah'?
Sekali mengeluh, maka kt membuka beribu peluang penyebab kita bisa 'jatuh'.. mari lawan itu dengan semangat #gigih tiada henti.
jatuh, seakan dunia skjap rntuh. nmun,ad makna manis dibalik itu: bkn sbrp dlm kt jtuh,tp sbrp kuat kt bangkit, wlo mgkin itu sakit. #gigih
#kegigihan lawan dr pelemahan, kawan. Knp? Krn #gigih menutup kesempatan siapapun bermalas diri.
Masih tentang #gigih.. bahwasannya setiap kita punya tujuan, impian, harapan. ya pasti. Tp, hnya sdkt yg smpai, knp? Ah, mdh sekali jwbnya~
Man jadda wa jada --> ini salah satu rumus #kegigihan yg ampuh. Trust me, it works !
msh mw ngeluh dgn keadaan fisik yang utuh? msh mw marah krn tak ssmpurna dia? hey, apakbr si fulan, yg mgkin utk makan sj tak ada bayangan ~
maka, mari terus introspeksi, adakah #gigih merasuk dalam tindak kita, atau malah #mengeluh mjd kebiasaan menyenangkan. kenali diri !
bkn diri ini sdh ahli, melainkan hanya ingin brbagi. #gigih dalam menyebar kebaikan, menyenangkan toh ? ~
ingat, jatuh-itu-biasa.. tapi bangkit-dari-jatuh itu luarr biasaa.. that's show how brave we are :) #gigihsemoga diri ini selalu #gigih dalam beraksih !!
semoga diri ini selalu #gigih dalam beraksih !!
@nadya_ff 

#ukhuwah

#Ukhuwah itu..
Diawali dgn jabatan manis sebuah perkenalan || Bersama mencari kesamaan, hingga merasa tiada perbedaan.
Terasa bahagia ketika bersama, dan selalu ingin berjumpa ketika berpisah
Tak jarang ada selisih paham -yg trkdang brujung hilangnya sapa- || Tp, bknkah itu bmbu pmanis #ukhuwah? Krn toh akhirnya saling merindu jua
maka, bersyukur sekali mereka, yg lebih dulu mengenal makna #ukhuwah.. saling bermesra, berjabat, dalam dekapan #ukhuwah.
Namun sy tdk mnyesal lantaran (terlambat) memaknai #ukhuwah, krn toh, tak ada kata terlambat dalam merajut kasih mesra, atas nama Allah.
#ukhuwah sngguh trasa manis di awal, &insyaallah berujung surga di akhir.Tanya kenapa? Krn #ukhuwah tercipta berlandaskan Allah azza wa jala
Beda sama #pacaran || yg awal-dan-akhirnya tak tentu arah-dan-menambah-dosa.
#ukhuwah itu.. manis dipandang, bangga disandang
#ukhuwah itu.. mendekatkan yang jauh dan merekatkan yang dekat
semoga kita semua bisa saling bermesra, atas nama Allah, dalam dekapan #ukhuwah :')
@nadya_ff #ukhuwah

#ikhlas

Mencoba berkicau  (20 Januari 2013)
Malam ini, ingin coba bahas ttg #ikhlas.. bahwasannya, Sulit utk menyinkronisasikan antara teori dan praktik..
"Ya, insyaallah saya ikhlas", ucapku. Tapi kenyataannya? #ikhlas seperti berat disapa, berat dilaku.
teori #ikhlas memang harus dipelajari sepanjang waktu, seumur hidup.
#ikhlas itu gimana kita bisa legowo nerima apapun hasil upaya. Itu teori simplenya. Lalu praktiknya? Duhai, sulit rasanya..
#ikhlas mengajarkan kita bgmn bisa lapang dan bersyukur dlm menerima yg ada, dan bgmn bisa ridho dlm memberi yg dimiliki. Sudahkah kita?
Ga munafik, diri inipun trkadang pandai berucap, namun sulit berlaku. Astagfirulloh.. smg kita bisa #ikhlas setiap saat.
" #ikhlas dan sabar, itu Islam". selalu terngiang kalimat itu kalo lagi kalap.
Sepertinya, saya butuh guru yg bisa kapanpun membimbing hati ini agar senantiasa #ikhlas bersikap, ga cuma lihai diucap.
#Ikhlas itu ga ada batasnya, sama ky sabar. Hanya saja, kita (mngkin hanya saya) yg selalu berkilah membatasinya, hnya utk mncari pembenaran
Tokoh #ikhlas yg luar biasa dalam hidup saya itu kedua orang tua.. mereka selalu memberi, selalu, apapun itu. Luar biasa mereka.
Suka terharu, kalo denger kalimat "apasih yang ngga buat kamu" ini dr bibir sang ibu. Ga ada keraguan kalo ibu adlh tokoh #Ikhlas yg nyata.
Apalg klo denger "yg pnting km dlu na" dr mulut sang ayah. Trlihat bliau #ikhlas mngutamakan anaknya trlbih dhlu. Duhai, mrka itu luarbiasa.
Tapi, kalo saya introspeksi, sdh berapa banyak #Ikhlas nya mereka yang berbalas ? Nyatanya, diri ini hny sibuk menuntut. Sibuk meminta.
Dan, akanjadi apa, kalo smpe detik ini, belum ada satupun #Ikhlas mereka yg berbalas. Duhai, Air mata ini sungguh bntuk penyesalan yg nyata.
Mari berdoa, semoga #Ikhlas senantiasa menjadi laku utama. Dan terus berdoa, smg #Ikhlas nya org tua senantiasa berbalas syurga, aamiin
Sekian saja. Niat sy #ikhlas berbagi. Diri inipun msh hrs ditempa, agar ikhlas selalu menghiasi. Smg Alloh meridhoi kita semua..

@nadya_ff

Ketika FSI Al-Biruni Menyapaku..


“Di sini ukhuwah bermula..
Dalam lingkaran penuh cinta
Dalam kesepakatan penuh makna
Antara aku dan dia, mereka, kita..

Di sini ukhuwah bermula..
Bukan karena kita serupa,
Bukan pula karena kita saling sama
Justru segala perbadaan yang menyatukan
Insane-insan yang yang utuh jika saling melengkapi permukaan,
Permukaan tauladan iman..

Diapun bertanya,
duhai, dimana itu berada?
Maka, dengan sapaan hangat kubisikan,
Di Fsi Al-Biruni, ukhuwah bermula..”

Pagiku terbangun, untuk memulai kegiatan seperti biasa.
Beginilah dinamika kehidupan seorang mahasiswa. Rumah-kampus-rumah menjadi tempat yang akrab untuk disapa. Hei, tapi tidak untuk diriku. Ada tempat lain yang mampu menyedot perhatian untuk disinggahi. Ku rasa, orang lainpun merasakan daya magnetnya. Apa itu ? simple saja. Musholla FSI Al-Biruni yang terposisikan apik di dekat fotocopyan. Jangan tanyakan ia berapa tingkat sampai-sampai mampu menyedot perhatian. Jangan pula tanyakan berapa AC disana yang terpasang, karena mungkin kau tertawa ketika jawabannya tidak ‘wah’. Bukan hal duniawi itu yang menjadi magnet, melainkan keshalihannya, ukhuwahnya, dakwahnya, keteduhannya, yang semua itu ada di dalamnya yang mutlak menjadi magnet perekat siapapun, diantara kita. Lantas, siapakah mereka yang ada di dalamnya ?
Adalah kabinet Muslim Fighter FSI-Albiruni 2012, yang mampu menghidupkan ruangan kecil nan mungil menjadi mewah nan megah.
Hei, apa maksudmu ?
maksudku, jelas,  mewah nan megah lantaran disetiap sisinya, disetiap pojoknya, ada orang-orang yang mungkin tidurnya tidak pernah nyenyak lantaran memikirkan dakwah kampusnya, lantaran memikirkan program-program menyenangkan sebagai amanahnya , lantaran memikirkan bagaimana dakwah bisa menyapa dengan ukhuwwah sebagai landasannya.  Karenanya, mereka sibuk menyusun program kerja, kegiatan-kegiatan, yang semua itu sarat akan nafas islam, nafas dakwah, nafas ukhuwwah. Mereka selalu optimal dalam melakukan itu semua. Walalu tak jarang masalah sering menyapa. Mulai dari dana yang tak kunjung ada, tempat yang tak tersedia, kewajiban akan sibuknya akademik yang menyita, semua setia menyapa, silih bergantinya waktu yang ada.
Tapi ya, cerdasnya mereka dalam bergerak menjadikan setiap masalah yang ada sebagai bumbu perjuangan. Karena setiap partikel bersenyawa ini yakin, bahwa setiap ada masalah maka disitu ada solusi yang setia menemani. Begitulah, jiwa yang memiliki totalitas tinggi, meski sering kerepotan dalam mengurus FSI Al-Biruni, meski tak jarang tidur larut, dan meski  siklus ini terus berulang selama setahun terakhir, tapi tetap saja senyum ikhlas setia mengukir, wajah para punggawa, para fighter biruni.  Tetap saja, ada canda dan tawa yang ringan yang selalu menghiasi hari-hari. Tetap saja, ada kehidupan yang bermakna, di hijab FSI Al-Biruni.
Partikel-partikel bersenyawa itulah yang memewahkan mushollah kecil dengan sederhana. Lantas, siapa yang menggerakan dan mengomandoi  partikel tersebut ? Jelas, Allah Azza Wa jala yang Maha Penggerak, tapi Ia memiliki perantara ataupun Ia telah memilih orang-orang yang berkapasitas luas, berintegritas  tinggi, bertanggung jawab dalam mengatur dan mengomandoi setiap gerak para fighter biruni. Dialah, pemimpin kabinet kami yang setiap geraknya, setiap lakunya, itu ditotalkan untuk FSI Al-Biruni tercinta. Dialah pemimpin keputrian kabinet kami, yang penuh kelembutan dalam bertutur kata, namun kuat dan berkarakter dalam bersikap. Merekelah, 2 orang yang ada dibelakang kami, yang setia istirahatnya diganggu, demi untuk melayani, para punggawa kabinet biruni.
Tapi tetap saja, sang kusir tiada daya membawa delman jika tak ada kuda yang menariknya, ataupun, bulan akan terlihat sepi tanpa ribuan bintang disekelilingnya. Pahamilah, kita semua berpengaruh besar akan kesuksesan FSI Al-Biruni. Kita semua saling melengkapi. Kita semua, tanpa terkecuali.

Setahun sudah diri ini tergabung di jajaran kabinet fighter biruni, terkhusus di Kaderisasi yang banyak mengajarkan pembinaan diri. Setahun sudah diri ini ditempa oleh mereka yang berintegritas tinggi. Setahun sudah diri ini menyaksikan langsung dinamika organisasi berkultur islami. Pahit manisnya, naik turunnya, semua melebur menjadi satu bagian pengalaman, yang pastinya sulit dilupakan. Semua terangkum dalam riwayat kehidupan.
Maka, ketika FSI Al-Biruni menyapaku, menyapamu, menyapa kita semua, pastikan bahwa kita siap menghidupkannya, memberi nafas ukhuwwah pada setiap gerakannya, atas nama cinta karena Allah Azza wa Jala.

pict by sahabat sehati, Nufi Eri Kusumawati.

Sabtu, 23 Juni 2012

Di sini, Ukhuwah bermula..


Di sini ukhuwah bermula..
Dalam lingkaran penuh cinta
Dalam kesepakatan penuh makna
Antara aku dan dia, mereka, kita..

Di sini ukhuwah bermula..
Bukan karena kita bahagia,
Bukan pula karena kita saling sama
Justru segala perbadaan yang menyatukan
Insan-insan yang yang utuh jika saling melengkapi permukaan
Permukaan tauladan iman..

Di sini ukhuwah bemula..
Hati-hati yang tertuju pada satu Yang Esa
Saling meraba, menafsirkan makna ukhuwah seutuhnya
Ada kalanya di antara kita tak ada sapa,
Pasti penuh Tanya. Ya.
Bukan karena acuh atau apa,
Tapi karena salah tafsir antara kita, bahwa sejatinya ukhuwah ada untuk saling introspeksi jua
Tak ada sapa, tapi tetap ada cinta, karena Allah azza wa jala

Di sini, lagi, ukhuwah bermula
Sejatinya ukhuwah dibuktikan oleh mereka, jundi-jundi Allah
Rasulullah, karib dengan para sahabatnya
Bukan karena sedarah, atau apalah
Tapi karena iman, yang penuh cinta pada Tuhan
Saling berjabat, bermesra dalam risalah dakwah..

Maka, di sini, ukhuwah bermula..
Di jalan ini, di detik ini. Ya, di sini.
Di tempat dimana bergetarlah ia ketika asma Tuhannya disebutkan..
Di tempat dimana terkadang kita terbuai akan cinta (dunia) yang kadang datang silih berganti untuk sekadar menyapa, lantas pergi karena tak sejati..
dimanakah itu ?
di sini kawan, di Hati ini, ukhuwah bermula..

atas nama Iman, terikat karena Islam, dan berujung pada nikmatnya Syurga. insyaAllah..

-nadya-

Rabu, 06 Juni 2012

Bermanfaat, karena Bersahabat..


Bismillahirrahmanirrahim. Allahumma Shalli `ala Muhammad

Dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang ada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka. Akan tetapi, Allah telah mempersatukan hati mereka.” (Q.S. Al-Anfal: 63)

Jika hati-hati setiap kita sudah terhimpun pada Yang Satu, Yang Esa, Allah SWT., maka yang terlintas dalam pikiran setiap saat adalah bagaimana kita bisa selalu memberi bentuk penyembahan terbaik untuk-Nya, Allah SWT.
Dalam setiap perjuangan, apapun itu, pasti membutuhkan suatu media atau wadah yang dapat menjadi sarana yang bisa menyalurkan potensi dengan optimalisasi daya dan upaya yang terarah dan teratur. Misal, perjuangan kita untuk membuktikan seberapa cerdasnya kita dalam bidang pendidikan bisa disalurkan dan dibuktikan dengan adanya lembaga pendidikan formal yaitu sekolah dengan berbagai tingkatannya. Lain hal, perjuangan kita untuk bisa membuktikan seberapa tangguh kemampuan kepemimipinan, politik, dsb, salah satunya bisa disalurkan dengan adanya parpol-parpol bergengsi di negeri ini. Lalu, jika kita bicara mengenai perjuangan dakwah islamiyah, adakah medianya?

FSI Al-Biruni merupakan Lembaga Dakwah Fakultas (LDF) yang dimiliki Fakultas Teknik Universitas Negeri Jakarta. Disinilah, para pemuda islam, pejuang kebenaran, mahasiswa muslim/ah FT UNJ yang hati-hatinya selalu berusaha untuk terus berhimpun kepada Allah SWT., akan merasa memiliki ‘rumah kedua’ yang bisa dijadikan wadah untuk menyalurkan dakwah islamiyah. Ketika kita berbicara mengenai rumah, maka di dalamnya kita akan senantiasa menemukan kenyamanan, ketentraman, dan ketenangan jiwa, dan FSI Al-Biruni memiliki kriteria tersebut.
FSI Al-Biruni adalah salah satu tempat atau wadah bagi mereka yang hatinya (insyaAllah) berusaha selalu untuk bisa bermuara pada Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. FSI Al-Biruni adalah sebuah media, yang dengan segala kesederhanaan tempat, kesederhanaan jajaran pengurus, kesederhanaan program-program kerja, mampu menampilkan ‘kemewahan’ pelayanan umat yang sangat mencerminkan Islam seutuhnya. Persaudaraan, perpolitikan, bahkan cinta, akan mudah sekali ditemukan di tempat itu. 3 kata tersebut, sangat berjauhan maknanya, tapi akan terasa dekat bahasannya jikat berada di lingkaran FSI Al-Biruni.

Dengan Persaudaraan, Semua Berawal..

Persaudaraan, atau yang lebih kita kenal sebagai ukhuwah islamiyah, adalah salah satu indikator terbesar yang menjadikan FSI Al-Biruni benar-benar menjadi ‘forum islam’ seutuhnya. Ketika kita membangun sebuah rumah mewah tingkat 5, akankah bertahan lama rumah tersebut jika tak ada semen sebagai perekat antara satu bata dengan yang lainnya ? Tidak. Ketika sobekan rupiah seratus ribu hendak dibelanjakan di supermarket, akankan si kasir menerima uang tersebut? Tidak, melainkan harus disatukan terlebih dahulu dengan sobekan lainnya menggunakan sebuah perekat. Lalu, ketika kita berlari dalam keadaan sepatu kanan belum diikat talinya, apakah akan terasa nyaman? Lagi-lagi, tidak kawan. Nah, disinilah analogi makna persaudaraan terbentuk. Persaudaraan tak jauh dari sebuah perekat yang jika tidak diperhatikan dengan saksama, maka tak akan ada artinya rumah setinggi apapun, uang setinggi apapun nilainya.
Coba bayangkan, siapa yang tak ingin memiliki rumah bertingkat. Hampir setiap kita mendambakannya. Namun, jika rumah tersebut tidak dibangun dengan pondasi yang kuat, akankah kita tetap mendambakannya?.

FSI Al-Biruni adalah rumah bertingkat yang memiliki persaudaraan (ukhuwah islamiyah) sebagai pondasi pengokohnya. Di dalamnya terhimpun umat-umat Rasul yang menjadikan satu sama lain sebagai saudara seiman. Karena, ya, firman Allah SWT. sangat jelas mengatakan bahwa sungguh tiap mukmin adalah bersaudara.

“Persaudaraan adalah mukjizat, wadah yang saling berikatan. Dengannya Allah persatukan hati-hati berserakan. Saling bersaudara, saling merendah lagi memahami, saling mencintai, dan saling berlembut hati.” –Sayyid Qutb-

Semakin tinggi sebuah bangunan, maka angin yang menerpa akan semakin besar. Maka jelas, persaudaraan sebagai pengokoh ukhuwah islamiyah haruslah kental dan terikat kuat sampai ke dasar agar ‘bangunan’ yang kian di bangun tak perlu menghiraukan angin, sekencang apapun itu. Dan, FSI Al-Biruni haruslah memiliki pondasi kuat tersebut. Ketika para mujahid di dalamnya memiliki rasa persaudaraan yang tinggi, yang mengindikasikan saling memiliki rasa kepercayaan antara satu dengan yang lain, maka jangan heran kebersamaan persaudaraan tersebut akan menghantarkan pada kejayaan perjuangan Islam, yang notabene adalah cita-cita umat muslim di dunia yang hendak dicapai, kembali. (Ya, karena dulu Islam pernah jaya, dan pada akhirnya memang hanya Islam-lah yang akan berjaya.)
Persaudaraan terjalin karena kita memiliki tujuan ataupun misi yang sama, hidup mulia atau mati syahid. Islam akan berjaya dengan atau tanpa kita. Tapi, akankah kita berjaya tanpa Islam? Tidak.. karena hanya Islam fikrah yang Allah SWT sampaikan pada Rasulullah Muhammad SAW melalui malaikat-Nya, Jibril. Maka, ketika kita memiliki tujuan yang sama, dengan sendirinya akan tercipta ukhuwah islamiyah yang semata-mata hanya mengharap ridha Ilahi. Inilah yang dimaksud mengapa persaudaraan dinilai sebagai indikator terbesar terbangunnya FSI Al-Biruni yang madani.
Lalu, contoh lain, bayangkan jika kita adalah orang yang berlari dengan tali sepatu yang tidak terikat dengan baik. Ya, jatuh adalah konsekuensi pasti yang didapat orang tersebut. Dalam membangun sebuah organisasi, kita pasti tidak ingin gagal dan terjatuh. Maka, solusi pastinya adalah, lagi, perkuat barisan persaudaraan, pererat ukhuwah Islamiyah. Di sinilah kembali saya menyatakan, bahwa FSI Al-Biruni merupakan wadah terbaik dalam mempersahabatkan insan-insan yang terlibat di dalamnya. Dengan tetap meluruskan niat, bahwa hanya Allah satu tujuan.

Politik, penuh taktik menggelitik..
FSI Al-Biruni layaknya miniatur pemerintahan yang dalam menjalankan tugasnya diselipkan strategi-strategi politik untuk mencapai visi dan misi yang hendak dicapai selama masa kepengurusan. Pastinya, para ‘politikus-politikus’ handal yang menjalankan roda pemerintahan FSI Al-Biruni adalah para pemuda-pemudi yang mumpuni di bidangnya. Mereka adalah insan-insan terpilih yang hatinya terpanggil untuk melayani umat dengan sepenuh kemampuan yang ada. Perlu dipahami bahwa Islam tidak hanya membatasi pembahasannya sebatas ritual ibadah yang bersifat ruhaniyah. Bahasan Islam sangat menyeluruh meliputi segala aspek, termasuk aspek perpolitikan. Rasulullah SAW. pun bersama para sahabatnya, dalam menjalankan dakwah islamiyah sungguh dirancang dengan strategi yang penuh pertimbangan, dan diselipi dengan strategi politik yang penuh taktik baik.
Maka di tempat ini, kita diajarkan bagaimana cara berpolitik dengan baik, bagaimana cara mengatur diri sendiri maupun orang lain, bagaimana cara berdakwah dengan penuh strategi agar risalah Islam tersampaikan dengan baik. Namun, perlu diingat bahwa politik disini (insyaAllah) berbeda dengan politik pemerintahan yang dewasa ini terkesan penuh tatik licik dan menggelitik. Permainan politik kita coba jalankan disini dengan tetap berlandaskan Islam yang kaffah, Islam yang menyeluruh tanpa melihat background ras maupun aspek-aspek pembeda lainnya. Berbeda dengan politik pemerintahan kita yang sekarang ini terkesan melihat siapa atau apa backgroundnya.

Adanya FSI Al-Biruni semoga bisa melahirkan politikus-politikus handal yang qurani dan islami sehingga nantinya bisa menjalankan roda pemerintahan yang makmur sejahtera, ke arah Islam yang jaya..

Cinta, Di sini kita Menuai..
Sejumlah cinta telah terukir
Senada peluh perjuangan tiada akhir
Cinta, di sini kita menuai
Benih-benih muncul kepermukaan
Cinta-Nya merasuk hingga ke jiwa
Ketika hati berpaut, pada Allah, sang Tuhan Maha Cinta..

Ya, di tempat ini, tiada keraguan bahwa di sini begitu sesak dengan cinta-cinta sang hamba pada tuhannya. Di sini, para pencinta Allah azza wa jalla saling berlomba-lomba dalam kebaikan. Di tempat ini, kita saling berebut cinta-Nya. Berharap satu, syurga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Begitu banyak nilai positif yang diberikan di tempat ini. Semua perindu syurga saling melebihkan nilai-nilai ibadahnya. Saling bertukar pendapat, mendirikan majelis-majelis ilmu, menjalankan segala kegiatan dengan harapan mendapatkan rahmat dan ridha-Nya. Tak salah, jika cinta-Nya bertebaran, dan hamba-hamba-Nya saling berebutan, karena memang tempat ini  tempat kebaikan, InsyaAllah.
Ditempat ini, cinta menuai indah. Cinta pada sang Khalik semata. Dan cinta pada sesama..
Dari Anas r.a. bahwa Nabi SAW bersabda, "Tidak sempurna keimanan seseorang dari kalian, sebelum ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri"

Kekurangan ada untuk dilebihkan..
Dalam berdakwah, istiqomah adalah kuncinya. Ketika kita terbentur satu kekurangan, jika istiqomah di tangan, maka tak perlulah risau akan halangan. Tak dipungkiri, ada banyak kekurangan FSI Al-biruni dalam pelayanan dakwahnya. Mungkin dari sisi pemahaman jajaran pengurus yang berbeda-beda, pelayanan fasilitas yang terbatas, ketidakselarasan komunikasi antara sang ikhwan dan sang akhwat (karena mungkin hijab, insyaAllah), dan lain hal sebagainya yang membuat banyak rekan-rekan diluar sana mungkin menganggap FSI Al-Biruni merupakan organisasi yang masih berkembang, belum maju. Tapi, apalah pentingnya arti maju dan berkembang jikalau jajaran pengurus sudah kepalang cinta akan tempat ini, segala kekurangan yang ada akan terlihat tidak mengganggu, bahkan kekurangan tersebut ada untuk dilebihkan menjadi sebuah pemacu semangat berdakwah. Ketika kekurangan yang ada dijadikan cemoohan bagi ‘mereka’ di luar sana, tapi bagi kita yang menjalaninya, cemoohan tersebut bagai kritik membangun untuk terus mengoreksi perjalanan dakwah ini.
Maka, jangan biarkan cemoohan mereka mengisi kekosongan jiwa dan raga sehingga membuat diri lemah dan tak semangat berdakwah.
Karena sejatinya, “Dakwah adalah cinta,” kata Rahmat Abdullah, “dan cinta akan meminta semuanya darimu. Sampai perhatianmu. Berjalan, duduk, dan tidurmu. Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah. Tentang umat yang kau cintai.”

Maka, tak ada waktu untuk mendengarkan hardikan mereka, cemoohan mereka, tentang perjalanan dakwah ini.

Cukuplah Allah tujuan kita, Rasul teladan kita, Islam segala tata aturan kehidupan kita, dan Dakwah, sebagai perjalanan serta kebutuhan kita..

“Dan hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar. Dan merekalah orang-orang yang beruntung” (Q.S Al-Imran: 104)

Ingatlah selalu, lelahmu dalam perjuangan ini insyaAllah dinilai sebagai pemberat amal ibadah mulia dihadapan-Nya, InsyaAllah, aamiin.
Wallahu wa Rasuluhu alam bish showab, wal ‘afuminkum.


Nadya F. Fidhyallah
Dept. Kaderisasi FSI Al-Biruni 2012

Powered By Blogger