I’m Nadya. An ordinary girl. Lives in the extraordinary world. I’M MUSLIM and so PROUD about IT. Be thankful because have you here guys as my friend. bestfriend. I’m always trying to love Allah and Rasulullah SAW. Be thankful because i’v borned as a MUSLIM. I just wanna be useful for others. make you all guys always smile is what I like to do. Yunno, expect a lil and give a lot is what i have to do, whenever and wherever i’m. i have many dreams. I have many hope. I wanna make mom dad and my sister proud with me. yunno, i wanna make a foundation named "Nad's Corp" which is concern in education and health. Now, what I want the most is goes to MECCA with my family. Wish me can realize that dreams, guys. Well, once, here I’m who has many dreams. o Allah, please make it happend all of my dreams.
DREAM. BELIEVE. MAKE IT HAPPEND.
Innallaha ma ana ~
#randomly
#justwritewhatIthink
Sabtu, 05 Oktober 2013
Rabu, 29 Mei 2013
Kenapa harus ‘SAYA’
Bisa saja ‘Saya’ memilih angkat tangan, mundur, dan pergi.
Bisa
saja ‘Saya’ memilih datang-duduk-mendengarkan lalu.. pulang.
Bisa
saja ‘Saya’ acuh, cuek, dan mengabaikan.
Bisa
saja ‘Saya’ memilih bebas dan santai, menolak segala beban.
Ya.
‘Saya’ Manusia. Punya hati, rasa, asa, yang bisa jenuh kapan saja.
Ya.
‘Saya’ Mahasiswa. Yang wajibnya memang duduk-mendengarkan, ‘menikmati’ tugas
yang diburu deadline.
Ya.
‘Saya’ anak Mama-Papa. Yang bisa mengabdi dan bermanja, kapan saja.
Tapi.
Ah. Ingat.
‘Saya’
hamba Allah (SWT). Yang dicipta-Nya sebagai Khalifaturrahman.
‘Saya’
umat Muhammad (SAW), yang diteladani untuk bermanfaat setiap saat.
‘Saya’
seorang Muslim, yang harus meneguhkan saudaranya
Dan,
ya, ‘Saya’ seorang agen Dakwah, yang dituntut menyeru kebaikan setiap saat
tanpa kelu kesah.
Maka,
haruskah ‘Saya’ berhenti ? TIDAK.
Haruskah
‘Saya’ pergi ? TIDAK
Haruskah
‘Saya’ lari ? Sekali-kali, TIDAK.
Perlahan
‘Saya’ mulai sadar, sengaja Ia titipkan potensi luar biasa pada diri yang biasa
(ini).
Lantas
sombong ? Tidak!
Justru
merasa kasihan.
Khawatir,
jika tidak seperti ini maka ‘Saya’ hanya menjadi pribadi lemah-tak-berdaya.
Jika
tidak seperti ini, istiqomah enggan untuk menyapa.
Jika
tidak seperti ini, nikmatnya ukhuwah tak pernah dirasa.
Jika
tak seperti ini, manisnya ladang Dakwah tak pernah menjadi jejak langkah.
Jika
tak seperti ini, sang waktu berlalu seenaknya saja, dan ketika membuka jendela
tak terasa usia senja menyapa
Maka
akhirnya,
Sejatinya
‘Saya’ dicipta untuk meraih cinta di langit, dan menebarnya di bumi.
Menyibukan
diri, untuk bermanfaat tiada henti.
Mengabdi
pada sang Khalik, sebagai hamba yang dhaif.
Menebar
kebermanfaatan diri, meraih ridho Ilahi.
Untuk
Saya, dan ‘Saya’-’Saya’ yang ada di sini
Ini
bukan keluhan | hanya merasa sepenanggungan | jadi ingin menyemangati, Kawan.
Ini
bukan curhatan | hanya ingin cari pundak, untuk berbagi beban|
Ini
bukan arogansi | hanya untuk introspeksi | sedang lemah kah diri? |
Dan,
Ini ajakan | untuk saling mengingatkan | jika Ternyata ‘Saya’ mulai kehilangan
pijakan|
Tetap
semangat duhai mujahidah Allah,
“Hai
orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan
menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad : 7)
Best
regards,
(>0<)9
(>0<)9
@nadya_ff
Sabtu, 25 Mei 2013
Lingkaran manis
Bismillah, Allahumma Shalli Ala Muhammad..
Assalamu’alaykum Warhomatulloh wahai para penduduk dunia
maya..
Hay hay haloo.. akhirnya.. kembali menyapa blog yang hampir
usang ini..
Agak menyesal sudah melalui hari-hari tanpa menulisnya di
sini. Padahal, bua..nyak sekali jejak-jejak langkah perjuangan yang berkesan
setiap detiknya untuk direkam. Jejak-jejak perjuangan.. yang bermuara pada
kesuksesan, nanti, Insyaallah.
Oke, sebagai awalan kembali menulis. Hari ini yang ingin di
bagikan adalah pengalaman pertama saya me’muhasabah’ adik-adik manis (sebutan
menti saya, kece ya :D) dalam FGD (a.k.a Mentoring) pekanan yang biasa kami
lakukan setiap hari Jumat jam 11 di Musholah manis FSI Al-Biruni tercinta. FYI,
kami kembali melingkar setelah 2 minggu vakum, akibat si mentornya yang
kepalang (sok) sibuk..
“Ya Allah.. ampuni hamba ya Allah..” (belakangan di ketahui
sang mentor yang sok sibuk tersebut adalah pemilik blog ini. Wakss)
Oke, FGD kali ini dihadiri oleh 6 orang Adik Manis (Indah,
Sarah, Anne, Nida, Dwi dan Putri *2 anak ini telat*). Rahma dan Fani ga hadir,
sayang banget, Rahma beralasan sibuk, Fani.. ga ada kabar. Hafft. Selain itu,
ada Iis dan Fauziah yang juga ikutan ngelingker bareng (yang ini anak2nya eeng,
maaf yak eng ga maksud nyulik loh ^^v)
Bahasan kali ini, beda dari biasanya. Bedanya, kalo FGD2
sebelumnya kita selalu penuh gelak tawa, tapi untuk kali ini saya coba untuk
meminimalisir tawa dengan mencoba bahasan yang umum, tapi selalu berhasil
mentikan air mata setiap ngebahasnya. Guess what ? Yap, Birul Walidayn.
Dimulai dengan sebuah ilustrasi, yaitu saya coba
ilustrasikan 2 kenikmatan Allah SWT dicabut hari itu juga, Menulis dan
Berbicara. Maka, sebelum ilustrasi itu dimainkan, adik2 manis diberi kesempatan
untuk menulis “Surat Terakhir” untuk orang tua mereka, hanya selama kurang dari
5 menit saja. Hening, dan perlahan haru birupun menyelimuti lingkaran,
seketika. Selama mereka menulis, saya coba untuk semakin membangkitkan ke’khusyu’an
yang ada dengan sedikit membaca puisi dan menyanyikan beberapa bait lagu “Ibu”
milik nasyid Shoutul Haq. Dan.. Yap ! hampir semua menuliskan surat dengan meneteskan
air mata.
Singkat cerita, setelah mereka selesai menuliskan “Surat
Terakhirnya”, maka masuklah ke bagian materi tentang “Orang Tua”. Poin-poin
yang saya sampaikan sebagai berikut :
®
Kisah Abdullah Bin Salam
yang sulit melafazkan Syahadat ketika sakratul Mautnya, yang diketahui
penyebabnya karena beliau pernah durhaka kepada ibunya.
®
Kedudukan Birul Walidain
Ø
Harus berbuat ihsan kepada
orang tua (QS. Al-Baqarah : 83)
Ø
Mengucapkan “Terima Kasih” (Bersyukur
) kepada orang tua, setelah Allah SWT (QS. Luqman : 14)
Ø
Rasulullah SAW Bersabda :
“Membantu orang tua adalah amalan kedua terbaik setelah melaksanakan sholat
tepat waktu.” –Mutafaqun ‘alaih-
“Durhaka kepada orang tua (‘uququl walidain) adalah dosa terbesar
setelah syirik kepada Allah SWT.
Ø Dan, “Ridhallahfii ridhawalidain” (HR. Tarmidzi)
®
Pandangan masing-masing
kita tentang orang tua masing-masing
Itu tadi sedikit gambaran tentang materi FGD kemarin. Tak heran,
materi tentang ‘orang tua’ itu selalu
berhasil membuat hati berguncah, jantung berdegup lebih cepat dari biasanya. Karena,
ya, Orang tua, adalah sosok-sosok manusia yang sangat sangat berarti dalam
hidup kita. Hari itu, semua tertunduk, termasuk saya. Bukan berarti saya
menyampaikan materi tersebut maka saya ‘tidak pernah’ berbuat salah dan khilaf
kepada orang tua. Justru, saya sendiri tertampar dengan materi yang saya
sampaikan kemarin. Apa yang saya lakukan di FGD kemarin adalah ingin mengajak
adik-adik menti saya (dan saya sendiri) untuk bersama-sama bersyukur dan terus
bersyukur atas kemurahan Allah SWT kepada kita karena telah memberikan orang
tua yang luar biasa mengasihi dan menyayangi kita sebagai anak dengan ikhlas.
FGDpun ditutup dengan sebuah janji mantap di hati, bahwa insyaallah kami semua
akan senantiasa memuliakan orang tua, kini dan nanti ~
“Bila ku ingat masa kecilku.. ku selalu menyusahkanmu..
Bila ku ingat masa kanaku.. ku selalu mengecewakanmu..
Banyak sekali pengorbananmu.. yang kau berikan padaku..
Tanpa letih dan tanpa pamrih, kau berikan semua itu..
Engkaulah yang ku kasihi.. engkaulah yang ku rindu..
Ku harap selalu doamu.. dari dirimu.. ya Ibu..”
Tanpa doamu takkan ku raih..
Tanpa doamu takkan ku capai..
Segala cita yang ku inginkan, dari diriku ya Ibu..”
-Shoutul Haq, IBU-
@nadya_ff
Minggu, 03 Februari 2013
my name is NAD, and i'm not a terrorist
Lagi iseng di kamar.
ini salah satu bentuk rasa syukur saya terhadap nama yang bagus ini. thanks mom and dad for giving me such a WOW name.
well, NAD is my nickname. just call me NAD, and i'll be there. :'D
Rabu, 30 Januari 2013
Yuk Bersyukur :)
Senin, 24 Desember 2012, adalah
perjalanan liburan kami setelah kurang lebih 16 tahun tidak ke tanah ini, tanah
Sulawesi, tepatnya di desa Latteko. Yap, si anak kota ini berlibur ke desa sodara-sodara.
Baik, sebagai awalan, coba sempatkan waktu untuk mencari nama desa tersebut di atlas,
atau mungkin di google map.. ketemu ? tidak? Baiklah. Mari sini duduk yang
manis, biarkan matamu menari mengikut arah tulisan ini. Tapi, harap diketahui,
tujuan tulisan ini bukan berfokus pada keindahan alam di sana (karena alamnya indah
banget sumpeehh), tapi, banyak ‘tamparan-tamparan’ kecil yang saya dapatkan di
sana, maka, izinkan saya membagi ‘tamparan’ tersebut. Oke kawan J
FYI, untuk mencapai desa ini, kita harus menempuh waktu 5-6 jam, dengan perjalanan yang mendaki-gunung-lewati-lembah (well, ini berlebihan. Abaikan~) tapi memang, jalanan yang berkelok-kelok dengan guncangan-guncangan dahsyat sesekali, sangat mengganggu perjalanan sampai-sampai mampu membuat saya lupa ingatan, mendadak tak mengenali si supir yang mengendarai (emang sebelumnya kenal na ? engga ~ Oke.-,-). Di dukung dengan kondisi sinyal Ind*sat yang seperti malu-malu untuk menampakan diri, maka, situasi ini sudah cukup menggambarkan bahwa desa yang saya datangi adalah desa yang jauuuuh dari jamahan kota. Lengkap sudah.
Bersyukur, sesampainya di sana
kami menginap di salah satu rumah saudara yang bisa dikatakan mampu
dibanding ‘tanah-tanah’ sekitarnya. Sambutan hangat sang tuan rumah, sambutan
ramah penduduk alam yang hijau mampu
mengembalikan ingatan saya dengan si supir pengendara tadi (well, lain waktu,
kita kenalan sama si supir oke ^^). Desa itu masih sangat kental akan nilai
budaya dan adat istiadat. Salah satu yang benar-benar menyadarkan saya berada
di Sulawesi adalah rumah panggungnya. Unik. Hampir seluruh penduduk di desa
tersebut menempati rumah panggung. Agak ngeri’ ketika suatu hari kami
bersilaturrahim ke rumah-rumah saudara di sana, naik ke rumah-rumah yang
terbuat dari kayu, yang sesekali terdengar suara reyotan kayu, berasa mau
rubuh. Nah, tamparan pertama yang saya dapat adalah ketika melihat kondisi salah
satu rumah di sana yang terpojok di kebun-kebun pohon mangga. Rumahnya jauh
dari kata sederhana, ruang tamunya ? itu tempat tidurnya. Aroma tanah basah dan
kebun-kebun hijau yang lembab, sangat menusuk. Sungguh prihatin melihatnya. Merasa
tertampar karena saya dengan kondisi yang sangat-bebas-bergerak di rumah masih
sering sesekali terbersit keluhan “ah, coba punya ini.. ah, coba punya itu..”
malu. Sungguh malu. Astagfirulloh.. kufur hambaMu Ya Allah..
Bahkan, beliau yang kami datangi tersebut, dengan segala yang serba cukup (malah mungkin kurang) masih bisa hidup dengan senyum berderai.. tawa membuncah.. tak ada sebersit dalam fikirannya untuk kufur. Sungguh, tamparan Allah sangat menyesakkan dada. Astagfirulloh..
Bahkan, beliau yang kami datangi tersebut, dengan segala yang serba cukup (malah mungkin kurang) masih bisa hidup dengan senyum berderai.. tawa membuncah.. tak ada sebersit dalam fikirannya untuk kufur. Sungguh, tamparan Allah sangat menyesakkan dada. Astagfirulloh..
Tamparan itu tak sekali dua kali
mengahampiri, kawan. Di hari lain, kami juga mendatangi salah satu penduduk
disana. Semakin sesak terasa di dada ketika kami menaiki rumahnya. Kami dijamu
dengan sangat ramah. Ah, ini salah satu yang saya suka dari silaturrahim, persaudaraan
begitu terasa kental. Disela-sela mereka yang sedang berbincang, maka saya
sempatkan untuk berkeliling rumahnya, dan Nyess.. dada ini kembali sesak
mendapati kondisi dapur dan kamar mandi yang.. astagfirulloh, ampuni saya yang
sering kufur akan kenikmatan rumah yang layak. Semoga Allah meringankan beban
mereka. Mungkin kalian, yang notabene anak kota, akan ikut terenyuh ketika
melihat kondisi ekonomi di desa ini. Terlintas dalam pikiran saya bagaimana
kita sering merengek’ ingin punya ini
itu. Sering juga kita mengeluh karena tak punya ini itu.
Tapi, lihat mereka, senyum mereka sungguh memancarkan rasa syukur tiada tara. Tak ada keluahan akan keadaan. Tak ada tangis akan kekurangan. Semangat gigih-berusaha yang dimilik setiap penduduk disini yang menjadikan kekayaan alami desa ini. Bagaimana dengan kita ? Jangan-jangan, karena kita di kota, karena semua serba ada, maka, si ‘gigih’ mulai enggan menghampiri. Astagfirulloh..
Salah satu yang sangat berkesan (dan
tak lupa tetap ada ‘tamparan’) adalah ketika di hari terakhir saya, kakak,
nenek, dan tante berkesempatan untuk menginap disalah satu rumah panggung milik
saudara disana. Penggambaran kondisnya gampang, pada punya TV kan? (Ituloh kotak
yang kalo dialiri listrik muncul gambar orang-orang nyuci baju sambil teriak
yeye-lalala-yeyeyeye-lalalala. Got it ? Good ~). Nah, pernah nonton ‘Andai Aku
Menjadi’nya Trans TV? Seperti itulah kondisi rumahnya. Rumah panggung
(belakangan diketahui rumah tersebut sudah berdiri lebih dari 20 tahun. Ih wow)
yang terbuat dari pure kayu keseluruhan, dan dengan pencahayaan yang minim
(well, Alhamdulillah, desa ini sudah dialiri listrik,walau tak jarang lampu
padam tanpa melihat situasi kondisi). Benar-benar terasa ke-se-der-ha-na-an-nya.
Jauh dari hiruk pikuk kota. Jauh dari kemewahan yang serba ada. Semua terbatas.
Bandingkan dengan kita, yang jika lampu padam (hanya untuk beberapa jam), maka
sumpah-serapah-keluh-kesah-tiada-tara terus mengalir dari lisan yang kita punya.
Tapi mereka, lampu bisa menyala sepanjang hari saja itu rasa syukur yang luar
biasa. Astagfirulloh.. Astagfirulloh.. Astagfirulloh.. Semoga Allah ampuni
segala bentuk kufur kita..
oiya, Kondisi airnya-pun, sepertinya sulit untuk dibilang itu air bersih. ‘Tamparan-tamparan keras’ terus terasa. Sudah berapa banyak air yang kita buang tanpa pikir panjang ? sudah berapa sering ‘Alhamdulillah’ terucap ketika air mengalir deras, jerni, dan bersih. Masyaallah..
Malam itupun, kami terlelap di rumah tersebut, dengan ditemani gogongan anjing, nyanyian tokek, dan paduan suara jangkrik.
oiya, Kondisi airnya-pun, sepertinya sulit untuk dibilang itu air bersih. ‘Tamparan-tamparan keras’ terus terasa. Sudah berapa banyak air yang kita buang tanpa pikir panjang ? sudah berapa sering ‘Alhamdulillah’ terucap ketika air mengalir deras, jerni, dan bersih. Masyaallah..
Malam itupun, kami terlelap di rumah tersebut, dengan ditemani gogongan anjing, nyanyian tokek, dan paduan suara jangkrik.
Well, masih banyak lagi ‘tamparan-tamparan’
yang saya dapat disana. Biarkan itu menjadi pengalaman berharga saya. 7 hari
merupakan waktu yang sangat cukup bagi saya merasakan hidup sebagai anak desa. Lebih
dari itu, mungkin saya akan mencari-cari kamera untuk melambaikan tangan
(lebay~).
Terimakasih Tuhan, kau beri kesempatan kepada saya untuk bisa
merasakan hidup dengan kondisi yang berbeda.
Mungkin kalian berfikir saya salah
jika membanding-bandingkan kehidupan kita di kota dengan mereka di desa. Ya,
memang tak sebanding, dan mungkin tak akan pernah sebanding. Atau mungkin
terlalu jauh perbandingannya, toh di kota sendiri masih banyak yang
kehidupannya jauh dari layak.
Tapi sekali lagi, yang ingin disampaikan disini adalah membangkitkan kembali “rasa syukur” yang harus mulai menjadi jati diri. “Rasa Syukur” akan apa yang didapat, apa yang diraih dijadikan sebagai karakter diri. Bahwa sekali kita kufur, ingat selalu beribu-ribu anak langit disana menderita karena sulit hidup teratur. Bahwa sekali mengeluh, ada banyak saudara-saudara kita yang harus berpeluh untuk memenuhi kebutuhan hidup secara utuh.
Inilah realita kawan. Mari terus
bersyukur, agar Berkah Allah bertabur, dan kita senantiasa dijauhkan dari rasa Kufur.
Maaf atas segala keterbatasan tulisan. Semoga 'oleh-oleh' ini dapat bermanfaat :D
Terimakasih yaa sudah mau duduk manis dan menyimak dengan baik :)
Regard,
NaFF~
Senin, 28 Januari 2013
berkicau dipenghujung Galau :D
Well, tetap bersyukur dgn apa yg didapat, apa yg diraih.. #sip
Tetep bangga jg, krn mampu meningkatkan kemampuan sendiri.. i mean, disaat yg lain 'krasak krusuk' kerjasama, sy bisa krn kemampuan sendiri. #sip
Disadari, ada penurunan.. tapi tetep bersyukur krn masih dlm haluan.. next, harus ada perubahan ! #sip
Sadar, kl kmrn ada kesalahan pd prosesnya, jd ga heran kalo outputnya krg memuaskan.. next, harus lebih lebih memperhatikan proses ! #sip
#sip --> RT @disneywords Why worry? If you’ve done the very best you can, worrying won’t make it any better. –Walt Disney
Sempet denger nada kecewa.. well, sy jg kecewa. But trust me mom, dad, i've tried my best. Masih sekitar Target kok, Tetep bagus kok itu :') #sip
"Kmrn sibuk organisasi sih.." apalagi nanti? Tandanya emang manajemen waktunya nih yg di mainkan. Demi sukses akademik sukses organisasi #sip
Tetep khusnudzon, bukan amanah yg turut campur menggoyahkan, hanya diri ini yg belum pandai mengatur jadwal #sip
Jika pnya angan, maka hrs ada tndakan. u/ mencapai kesuksesan, bukankah berhasil dan gagal adalah proses yg bersisian? Nikmatilah kawan~ #sip
Ini masih awal.. Belum sbuah pmbuktian. Ini msh proses yg hasilnya tdk instan. #sip
@nadya_ff
sejatinya, Kami #rindu..
Duhai.. sedang apakah engkau? #rindu rasanya ~
Duhai.. ingin ku kabarkan, serdadu itu #rindu dirimu ~
Duhai, tak hanya serdadu itu, tp negeri ini pun #rindu akan hadirmu, tegasmu, gagahmu..
duhai.. dimanakah dirimu? Sampai kapan #rindu kami tak berarah? Apalah daya, semua mengharapkanmu ~
Duhai, jgn2 kau lelah, meladeni kami yang tak tentu arah, sampai2 utk sapaan saja enggan bermuara. #rindu
Duhai, sejatinya kami butuh sosok utk di tengok.. sosok, yg mampu membenahi kami yg seperti egois sendiri. #rindu
Duhai, suapan uang semakin merajalela, kepentingan kelompok menjadi alasan yg diprioritaskan.. mungkinkah kau biarkan ? #rindu
Duhai, sampai kapan kau biarkan, negeri ini disuapi para pencari keteneran, kepuasan, uang, yang bisa menggemukan 'badan' ? #rindu
Duhai, smpai kpn kau trdiam, melihat si fulan terlilit hutang demi mencari sesuap nasi, tapi disana yang korupsi kian kokoh berdiri.. #rindu
Duhai, aku rindu.. #rindu engkau, duhai Pemuda, yg mw ttap trjga membenahi kebobrokan yg ada. bkn malah tutup mata seakan tak terjadi apa2..
@nadya_ff
Langganan:
Postingan (Atom)






