Kamis, 17 Desember 2015

Aku (kah) Kamu (?)

Adalah aku, yang duduk menepi, sangat tepi, hampir jatuh.
Sendiri.
Dan, adalah kamu,
yang tegak berdiri, tengadah ke langit, dengan kaki mbumi.
Adalah aku, yang sesekali celinguk tak berteman, seorangan.
Cari kawan.
Dan, adalah kamu,
yang terbahak tertawa, tukar kartu nama, ramai jabat tangan dengan rekanan.
Adalah aku, yang buka kamus beribu kali, cari makna dan arti.
Yang ingin bersuara saja rasanya hampir mati, takut salah takut dicemoohi.
Dan, adalah kamu,
Panggung menjadi kawanan hari-harimu, tebar suara tanpa ragu. Apatah malu, bahkan semesta menanti lisanmu.
Lantas,

Adakah aku, separuh kamu (?)
...

Jumat, 11 Desember 2015

[RESUME] “RPIM Jilid II ; Di Bawah Naungan Panji Al-qur’an”

Kondisi Umat Hari ini
·         Berbagai aturan yang mengikat jauh dari unsur Islam ; Undang-undang kenegaraan, peraturan yang mengatur hubungan bilateral maupun multilateral dengan negara lain, undang-undang peradilan, undang-undang pertahanan keamanan dan militer, sistem perekonomian, sistem pendidikan, hingga undang-undang perkawinan dan kerumahtanggaan dan sistem perilaku personal,
·         Para pemimpin negara yang tidak bermentalkan Islam.
·         Masjid-masjid diisi oleh orang-orang tua (cenderung renta)
·         Bulan ramadhan dipenuhi dengan aktivitas ummat yang bermalas-malasan
·         Taklid kepada paham westernisasi

Urgensi Keberadaan Kita
ü  Menanamkan keyakinan kepada semua bangsa terhadap nilai-nilai Islam.
ü  Menegakan nilai-nilai Islam di negara mayoritas islam (ex : Mesir) sebagai basis pergerakan ikhwanul muslimin
ü  Menegakkan sistem perundangan dalam negeri, sebagai perwujudan firman Allah Qs. Al-Maidah: 49)
ü  Menegakkan sistem perundangan yang mengatur hubungan negara dengan berbagai bangsa di dunia untuk mewujudkan firman Allah Q.S Al-Baqarah: 143
ü  Menegakkan hukum peradilan yang berpijak pada ayat Al-Qur;an,
ü  Menegakkan sistem perundangan pertahanan dan keamanan serta militer, untuk merealisasi anjuran sikap siaga menghadapi perintah yang tertuang dalam Qur'an,
ü  Menegakkan sistem ekonomi yang mandiri untuk mengatur kekayaan alam harta benda, baik bagi negara maupun pribadi warganya. (Q. S An-Nisa:5 )
ü  Menegakkan sistem pendidikan dan pengajaran dalam rangka memberantas kebodohan, sesuai dengan pesan Ilahi dalam Qur'an Surat Al-Alaq: 1
ü  Menegakkan undang-undang keluarga dan kerumahtanggaan untuk menciptakan suasana yang kondusif bagi pendidikan anak di rumah, baik putra maupun putri. (Q.S At-Tahrim: 6)
ü  Menegakkan sistem perundangan yang mengatur perilaku individu untuk mewujudkan keberhasilan hidup yang dicita-citakan, sesuai dengan isyarat Qur'an. (Q.S Asy-Syams)
ü  Menegakkan iklim positif secara umum untuk melindungi setiap pribadi masyarakat, baik pejabat maupun rakyat, dengan berpijak pada firman-Nya Q.S Al-Qashash: 77

Bekal Kita..
v  Iman kepada Allah, pertolongan, dan dukungan-Nya.
v  Iman kepada panglimanya, beserta ketulusan hati, dan kepemimpinannya,
v  Iman kepada sistem dengan keistimewaan dan keunggulannya.
v  Iman kepada persaudaraan dengan hak dan kewajiban serta kesuciannya.
v  Iman kepada balasan akhirat dengan keagungan dan kelipatannya.
v  Iman kepada keberadaan diri mereka sendiri, yakni sebagai jamaah yang dipilih oleh takdir untuk berperan menyelamatkan alam semesta ini, yang telah mendapatkan keutamaan dengan peranannya ini dan jadilah mereka sebaik-baik umat yang dilahirkan untuk manusia seluruhnya.
v  Jihad, kesungguhan, dan pengorbanan jiwa raga.

"Dan sesungguhnya, inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu ikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan oleh Allah agar kamu bertaqwa," (Al-Anam: 153)


 “.....wahai sekalian manusia, kami adalah pemikiran dan akidah, hukum dan sistem, yang tidak dibatasi oleh tema, tidak diikat oleh jenis suku bangsa, dan tidak berdiri berhadapan dengan batas geografis. Perjalanan kami tidak pernah berhenti sehingga Allah swt. mewariskan bumi ini dengan segala isinya kepada kami, karena ia adalah sistem milik Rabb, Penguasa alam semesta, dan ajaran milik rasul-Nya yang terpercaya.”
(Hasan Al Banna)



-Nadya Fadillah Fidhyallah-

Sabtu, 21 November 2015

#ElectionNeverEnd

Sabtu, 21 November 2015

Akhirnya.................... Election kumpul lagi. Yay.
Setelah beberapa kali wacana.
Setelah beberapa kali "ayo2an" tanpa ada follow up.
Setelah beberapa kali left group untuk sekedar nunjukin rindu-baper-pengen dijapri atau apapun itu.
Akhirnya.
Hari ini.
Tanpa ada rencana ba-bi-bu dulu.
Election jalan-jalan terjadi.
almost full team, tanpa giri yang lagi sibuk dan Akbar yang ga ada kabar, berkumpulah ((akhirnya)) izhar ari akbar ilham ican nadia zakiyah, dan nadya.
Karena kemalasan si tuan rumah, maka terimakasih untuk kalian wahai sang tamu yang bawa sendiri makanan dan minumannya.. :')

Lagi2-Karena-kemalasan-si-tuan-rumah-yang-tidak-mempersiapkan-apapun, maka makan di luar adalah solusi terbaik, dan Kita-jalan-bareng-diluar-pake-mobil-Ari. Barakallah.. #election naik tingkat dari konvoi jadi mobilan ~ Berkah ~

Main /truth or truth/ pun jadi cara baru untuk kita saling bertukar cerita pribadi. Cerita privasi. Karena TOT, jadi tau kalau.... ada yang udah berhenti tebar receh (yakin nih ~).. ada yang 'ga mau putus' (weka weka).. ada yang ngaku ga gabung di partai (akakak).. ada yang digodain sama murid2 perhotelannya (sok ganteng iyuhh).. ada yang lagi break up sementara sama si dia (cem maen bola ada istirahatnya).. ada yang emm privasi2 laah pokonyaa ~

Well.. silaturrahim sama sahabat, bukan, keluarga, itu memang selalu menyenangkan. Banyak tawa. Banyak canda. Tapi selalu terselip doa untuk kesuksesan, apapun urusan.
Mereka akan selalu menjadi keluarga terbaik, dulu, kini, dan nanti.


16.30-20.30 WIB. Kurang lebih 4 jam waktu dunia.
Waktu yang ((lumayan)) untuk memadamkan api rindu yang lama tersulam. Biar selanjutnya robithoh yang selalu menjadi pengikat hati-hati kita, pembayar sulitnya waktu untuk berkumpul bersama. Persaudaraan ini..semoga tersulam hingga JannahNya Allah. Aamiin.

Salam sukses dan semoga selalu dimudahkan untuk kamu kamu yang sudah mulai merintis bisnis.. yang sedang menyelesaikan skripsi.. yang akan lanjutin kuliah yang ditinggal tanpa cuti.. yang lagi ngumpulin banyak rejeki untuk n*ikah... yang apapun itu selama dalam koridor kebaikan.

See you on top! :')
Aamiin..


one thing is clear that i always want to say for everyone of you is...............
#ElectionNeverEnd!!!
BPH HMJ Teknik Elektro 2013


Ki-Ka: iam, kiki, ican, nadSS, zakiy, nadFF, ari, ijar (kurang giri akbar, semoga someday full team)

Minggu, 27 September 2015

...

Sang aktor pendidikan resah. Agak ironis memang, kala bicara sistem pendidikan.
Mereka berpayah mencari solusi,
pusing bicara masalah itu, masalah ini,
Meminta gaji, namun berbentur dengan kata abdi.
Berkeluh menderita karena pelik dengan sistem yang ada, dibilang lemah dan malah diancam copot jabatan,

Kasian.
Tapi ya..
Sistem, terus berlari.
Siksa mereka sebagai pelaku utama,
yang tak sesuai dengan norma-norma lapangan yang ada.
Teori dan aturan yang lahir, mereka pun sangsi.
Itu lahir dari mulut siapa? landasannya apa?
Bisa-bisanya beda dengan dunia nyata.
1 + 1 = 2, tapi dengan sistem, hasilnya ya... suka-suka. Haha.

Lalu kebijakan,
dimana bijaknya?
Jika ada proyek proyek.. Tender tender raksasa (di-balik-layar) yang isinya hanya degredasi moral yang semua tutup mata.

Alangkah lucunya,
Mereka punya visi yang sama... mencerdaskan kehidupan bangsa.
Cerdas seperti apa? Huh. Entah.

Tapi visi hanyalah visi,
jika para aktor lapangan hanya disuap sistem tak ada arti.
Tapi tenang, Pak, Bu Mentri.
Mereka resah.. mereka pundung hanya sekadar pundung,
toh marahnya mereka, kian memotivasi untuk berbuat lebih.
Biar mereka bekerja dengan caranya. Bekerja karena ingin anak cucu Indonesia menjadi manusia yang seutuhnya.
Melayani negeri, mendidik para peretas mimpi, dengan suguhan ilmu tanpa politisasi.
Murni, dengan ketulusan hati.

Tekad mereka tak lebih berujar bahwa perjuangan ini, biar berhenti sendiri saat matinya denyut nadi. Perjuangan ini, Per(juang)an tentang pen(cerdas)an ke(hidup)an bangsa.
...

Pendidikan Indonesia, riwayatmu kini...

------------
@nadya_ff

Senin, 03 Agustus 2015

Yang Pemuda.. Yang Mahasiswa.. Yang Berorganisasi

“Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya …

Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia”

-Ir. Soekarno-

Sang Orang nomor satu kala itu, dipidatonya lantang menyebut-nyebut kita. 
Kita?
Iya, Kita.. Pemuda.

     Pemuda adalah sosok penggerak perubahan. Di dalam jiwanya penuh dengan keliaran potensi yang meletup-letup ingin disaluri. Di dalam asanya penuh dengan rajutan mimpi yang berlomba untuk dijadikan aksi. Semua itu dibalut dalam “almamater” pemuda. Bukankah ini semua menceritakan tentang engkau? Tentang kita? 

     Bicara tentang pemuda, menurut UU Kepemudaan nomor 40 tahun 2009 menegaskan tentang batasan usia pemuda Indonesia yakni 15 sampai dengan 30 tahun. Sementara itu, menurut Psikolog Roslina Verauli, pemuda yang adaktif dan dituntut untuk lebih produktif berada di kisaran umur 17 hingga 21 tahun. Disisi lain, menurut Elizabeth Hurlock (Developmental Psychology, 1991), mengatakan bahwa mereka yang tergolong dewasa awal (re : pemuda), ialah mereka yang berusia 20-40 tahun. Orang dewasa muda termasuk masa transisi, baik secara fisik, transisi secara intelektual serta transisi peran sosial. Perkembangan sosial masa dewasa awal adalah puncak dari perkembangan sosial masa dewasa. Masa dewasa awal adalah masa beralihnya pandangan egosentris menjadi sikap yang empati. Pada masa ini, penentuan relasi sangat memegang peranan penting. Hurlock (1986) mengemukakan beberapa karakteristik dewasa awal dan pada salah satu intinya dikatakan bahwa dewasa awal merupakan suatu masa penyesuaian diri dengan cara hidup baru dan memamfaatkan kebebasan yang diperolehnya. Deretan angka usia di atas sudah cukup menjadi bukti bahwa kita adalah objek dari itu semua, yang secara berjalannya waktu menjadi seorang ‘pemuda’ pasti akan kita lalui. Maka sampai baris ini, yakinlah bahwa kita memang Pemuda. 

     Namun disisi lain, ada satu label baru yang tersematkan dalam pundak kita. Titel kebanggan pemuda yang tak semua bisa merasakannya. Titel ini kita yang memilih secara sadar dan tanpa paksaan. Ialah, Mahasiswa. Titel yang diraih bukan dengan begitu saja, tapi dengan perjuangan dan harapan. 

     Menjadi seorang mahasiswa adalah sebuah kesempatan emas yang tidak semua pemuda bisa merasakannya. Adalah Kita, yang hari ini teramat sangat beruntung mampu berkesempatan menjadi Mahasiswa itu. Adalah Kita, sang Pemuda, sang Mahasiswa. Maka apakah titel ini akan dibiarkan berlalu begitu saja? Akankah titel baru kita ini akan hanya diisi dengan -masuk kelas-duduk mendengarkan ceramah dosen-mengerjakan segala tugas- saja? 
Karena Adalah Kita, yang hari ini sebenarnya disebut-sebut oleh Ir. Soekarno sebagai pengguncang dunia itu. Melalui titel mahasiswa, kita berkesempatan mengeksplorasi segala potensi, segala pemikiran hebat, segala softskill yang kita miliki. Salah satunya ialah lewat organisasi. Ya, Organisasi.

     Kampus diibaratkan sebagai laboratorium kehidupan. Dianalogikan demikian karena kita memiliki kesempatan mecoba apapun di dalamnya. Ingin menjadi wirausaha? Maka tidak ada yang melarang untuk kita membuka lapak usaha di kampus, menjajakan ‘barang jualan’ ke teman-teman sepergaulan. Ingin menjadi negarawan? Maka menjadi pengurus organisasi adalah bentuk uji cobanya. Kampus dirasa hidup bagi sang pemuda bertitel mahasiswa adalah ketika terus berdenyutnya kajian-kajian politik kampus, diskusi publik, seminar kepemimpinan, dan semacamnya dengan tetap menunaikan kuliah dengan disiplin. Organisasi mengajarkan kita ilmu softskill, bagaimana berbicara di depan umum, bagaimana melatih simpati dan empati, bagaimana bernegosiasi dengan baik, bagaimana mengatur agenda tingkat jurusan bahkan mungkin hingga tingkat nasional, dan bagaimana bisa menjadi orang yang bermafaat bagi urusan orang lain. Organisasi juga menambah wawasan ilmu sosial, pun juga menambah relasi pertemanan. Organisasi mengajarkan apa yang tidak kita temukan di dalam kelas. Dalam satu kesempatan, Anies Baswedan pernah berujar bahwa “IP (Indeks Prestasi)” kita hanya mampu mengantarkan pada meja interview suatu perusahaan, semakin tinggi IPnya semakin kita bisa mendaftarkan diri pada perusahaan besar. Namun perhatikan.... IP-hanya-mengantarkan-pada-‘mejanya’-saja, untuk bisa berhasil atau tidaknya, lanjut Anies Baswedan, salah satunya tergantung dari kemampuan berbicara kita, riwayat kemampuan manajerial kita. Dan apakah hal-hal tersebut secara rutin dapat kita raih hanya dari dalam kelas? Tidak, kawan. 

     Maka dari itu ada dua makna yang dapat diambil, yaitu akademik tetap menjadi nomor satu, dan organisasi, menjadi pendampingnya selalu. 

     Maka akhirnya, dapat lah kita sulam benang merah yang ada, bahwa ‘Pemuda’ yang lantang bung Karno nantikan hadirnya adalah Kita... Kita, si Pemuda yang kini baru menjadi Mahasiswa, yang akan siap turun ke jalan kala ketidakadilan menindas rakyat, yang akan siap menyibukan dirinya dalam agenda-agenda kebermanfaatan, yang akan siap menjadi akademis yang peka sosial. 

     Maka, selamat teruntuk Kamu, yang kini tersematkan satu titel kebanggan di pundakmu. Titel yang tak bisa diraih setiap pemuda, kini ia dengan mantap menjadi status barumu. Juga, Selamat memasuki gerbang organisasi, yang ia pasti akan sangat engkau cari, untuk eksplorasi kebermanfaatan diri.


Ditulis oleh seorang yang sangat beruntung berkesempatan bisa menyibukan dirinya dalam kesibukan organisasi,
Nadya Fadillah Fidhyallah

Teknik Eletro 2011
@nadya_ff

Sabtu, 27 Juni 2015

"Puang Ake"




Nama panggilan para cucu : puang ake ('puang', istilah dalam bahasa bugis, panggilan yg sopan kpd yg lbh tua, dan 'ake', emmmm.... panggilan imut dr cucu2nya, kependekan dr 'kakek' ~)

Usia : >80tahunan, gada yg tau pasti tahun berapa beliau lahir *kemudian hening*

Ciri Khas : Berbaju putih dan berpeci

Kebiasaan : Sholat Awal Waktu. akan gelisah ketika sdh mendekati jam2 sholat. Thats why, beliau selalu pake jam tangan ~
dan, Mengaji. Dengan suara beratnya, dan-tanpa-bantuan-kacamata, beliau rutin mengaji. Rutin sekali.

Kondisi Fisik : "Prima" diusianya ~ masih bisa mengayuh sepeda dgn jarak yg lumayan...... lumayan bikin beliau sampe pernah lupa rute jalan balik ke rumah.

Pendengaran juga semakin berkurang. Seru, harus teriak kl ngobrol sama beliau.

*Dan, masih banyak lagi tentang beliau.*

----
Teladan yg sampai hari ini menginspirasi para cucu (((terkhusus saya))) adalah...

walau tergopoh, walau tertatih, walau utk turun sujud dan bangun dr tahiyat butuh waktu yg lbh lama, Shalat baginya harga mati. Bahkan, Shalat-Awal-Waktu baginya harga mati. Terlebih lagi, Shalat-Awal-Waktu-Di-Masjid baginya harga mati (ketika bisa, pasti beliau ke masjid).

Itu nasihat beliau.
Nasihat yg tak pernah terucap, tapi langsung lewat sikap, langsung lewat teladan.

Semoga Alloh selalu beri beliau kesehatan. Aamiin.

‪#‎Day‬-10
‪#‎RamadhanMubarrok‬
‪#‎BagiKisahDikit‬
‪#‎SemogaInspiratip‬

Selasa, 09 Juni 2015

Debu


Gemuruh angin bergilir lari,
sesatkan debu, terbawa sepi
ia berpindah, dari tanah ke tanah
sesaat disini, nanti lusa disana.
tak ada tempat pastinya,
ia bergulir terbawa angin.
menempel, menyelimuti pernak mewah.
Kurangi estetika. Hanya jadi benalu saja.
Prinsippun tak ada,
hanya pasrah ikuti angin membawa,

Debu, itulah dia.

Lalu, kamu mah apa? butiran debu?
Jangan, ia kotor nan mengganggu.
Yang Kuasa cipta kita untuk jadi Khilafah, sangat mulia.
Lalu kamu? Mendebu? hanya bentuk merendah, tak ada syukur, sungguh Allah tak suka.

..
Debu,
cukup biarkan angin membawa ia berlalu.
Powered By Blogger