Keasyikan berseluncur di dunia maya sambil sesekali ngerjain tugas (*lah), terus pas sadar nengok ke pojok kanan bawah bagian desktop menunjukan pukul 0:17 ditanggal 01/01/2016.
Yap.
Ini Februari yang ke 23 (hampir) aku lalui.
Bukan waktu yang cepat, bukan angka yang muda (lagi).
Banyak yang tercapai, lebih banyak yang belum.
Harapannya bisa terus jadi prbadi yang lebih baik lagi... lebih baik lagi...
Lebih shalih lagi.. lebih istiqomah lagi..
Terimakasih o Allah, atas semuamuamua karunia yang bahkan -laut menjadi tintanya, pohon sebagai penanya-pun tak akan mampu selesai menuliskannya satu per satu.
Sungguh taburan nikmat Allah tiada berhenti, sampai nanti, sampai mati.
-nad-
Minggu, 31 Januari 2016
Kamis, 31 Desember 2015
Syukur #2
31 Desember 2015,
Pojok Kamar.
Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih,
Maha Penyayang.
Dengan Shalawat terbaik teruntuk
Rasul akhir zaman.
Syukur selanjutnya adalah untuk
anugrah yang tidak semua orang dapat merasakannya.
Menjadi kakak mentor adalah bukan
hal yang susah, tapi juga tak mudah.
Bagaimana membuat hidup lingkarannya,
bagaimana mengalirkan ilmu-ilmu di dalamnya, bagaimana memasang mata dan
telinga pertanda penuh perhatian kepada mereka, bagaimana mengondisikan diri
sendiri untuk selalu semangat untuk mereka, bagaimana menjadi sosok teladan /yang
padahal aib sendiri sungguh bertumpah ruah/ bagi mereka, dan berbagai bagaimana
lainnya yang selalu harus dipersiapkan setiap pekannya.
Lelah sering menyapa. Bosan kadang menggoda.
Futur bahkan datang sekali dua.
Tapi, jika melihat semangat belajar
mereka. Jika mendengar canda tawa mereka. Jika... mengingat janji Allah yang
selalu terngiang bahwa Allah akan teguhkan kedudukan kita kala kita meguhkan
agamaNya.. mengingat ucapan RasulNya bahwa sampaikanlah walau hanya satu ayat..
Rasanya tak ingin hati berhenti. Tak ingin langkah kaki berhenti. Rasanya bersyukur.. sungguh bersyukur sekali.
Memiliki kesempatan menjadi kakak dari berbagai adik yang penuh karakter. Memiliki kesempatan bertukar ilmu pengetahuan. Memiliki kesempatan untuk sibuk dalam kebaikan.
Maka selanjutnya, penuh harap sekali
lingkaran ini kelak menjadi saksi kami, bahwa di zaman yang semua sibuk akan
pencarian duniawinya, di zaman yang Islam mulai memasuki zaman keterasingannya, (masih)
ada sekumpulan kami yang setiap pekannya rela meluangkan waktunya untuk meNgaji
dan mengKaji ilmu-ilmu Islam. Ada sekumpulan kami yang saling bantu memperbaiki
bacaan al quran. Ada sekumpulan kami yang berikhtiar terus menyempurnakan
hijabnya. Ada sekumpulan kami yang terus ikhtiar menjaga Izzah dan Iffahnya. Ada sekumpulan
kami yang aktif berdiskusi tentang palestine, tentang syria, tentang
saudara-saudara kami yang terjajah. Ada sekumpulan kami yang sibuk lisannya
menyampaikan kebaikan. Dan, ada sekumpulan kami, yang saling bermesra, berbagi
suka duka, menjalin ukhuwwah sesama saudara, yang semua itu karena Allah azza
wa jala.
Maka akhirnya, teramat bersyukur sekali dapat dipertemukan dengan mereka, dalam kebaikan.
Penuh harap, lingkaran ini menjadi
bentuk kami meneladani Rasul kami.
Biarkan Allah sendiri yang menghentikan
persaudaraan duniawi kami, hingga Ia sambungkan lagi di JannahNya nanti. Semoga.
In Syaa Allah
“.....Jadikan robithoh pengikatnya.
Jadikan doa ekspresi rindu....”
..yang mencintai lingkaran dengan
apa adanya,
-nad-
Rabu, 30 Desember 2015
Syukur #1
30 Desember 2015, Pojok Kamar.
Dengan menyebut nama Allah, Tuhan Penguasa Alam Semesta..
Dengan menyebut nama Allah, Tuhan yang Esa, sungguh tiada
dua..
Dengan menyebut nama Allah, Tuhan yang selalu Memberi,
sungguh tiada pilih kasih..
Dengan menyebut nama Allah, Tuhan yang Maha Pengasih, lagi,
Maha Penyayang.
Menuju akhir tahun Masehi, maka, Untaian syukur tiada tara
pantaslah hanya bermuara pada-Nya.
Banyak pencapaian yang Allah kasih, yang Allah anugrahi.
Betapa sungguh sadar diri ini, bahwa belum mampunya sang
diri membalas segala jasa apapun itu yang
sudah diberikan ibu dan bapak tanpa pamrih. Maka, betapa sungguh
bahagianya hati, kala bisa menyelesaikan amanah besar yang ibu bapak berikan,
di waktu yang tepat. Senyum lebar tanda bangga dan bahagia masih sangat
teringat dalam angan, kala itu, ketika diri ini menghampiri mereka,
berseragamkan toga. “S, Pd” pun
tersematkan dalam nama, pertanda tertunaikanlah amanah ibu bapak. Sejatinya
sadar, bukan titel itu yang (sekadar) ingin diraih, tapi, penuntasan kuliah
yang menjadi pemuas hati. Karena, ya, tadi, betapa sadar diri ini belum mampu
membalas apa yang telah mereka berikan, maka lewat pencapaian itu semoga bisa
menyicil sedikit demi sedikit balas budi untuk ummi-dan-abi.
Tidak sampai disitu.
Diri ini memutuskan untuk melanjuti lelahnya belajar. Strata
dua.
Ini cita-cita selanjutnya yang, Allaah Kariim, teramat
sangat didukung oleh ibu dan bapak. Bahkan, senyum lebar yang lebih lebar diri
ini dapatkan dari mereka ketika diri ini mengamini untuk melanjutkan strata dua
di tempat almamater yang sama seperti bapak.
Banyak yang menyangkan.. kenapa harus di tempat yang sama?
Biar orang berkata apa.. Mau dimanapun, Allah tetap hitung itu
sebagai jihad ilmu, toh?
Walau tak dipungkiri, komentar satu dua orang terkadang
menggubris hati, namun ketika kembali hadir senyum-merekah-tanda-bangga-ibu-bapak,
maka terpental-lah komentar tak berguna mereka.
“Ini kesempatan, Na. Mumpung masih didukung...” Allah Kariim..Tak ada motivasi hebat lain yang mampu menyaingi sebaris kalimat ampuh dari sang Ibu.
Semua orang tumbuh berkembang. Termasuk diri ini.
Memilih adalah tugas mutlak manusia dalam menjalani
kehidupannya.
Dan diri ini, dengan Menyebut Nama Allah, dengan mengharap
Ridho Allah, dengan berharap berkah Allah selalu mengiringi setiap langkah kaki
dalam menapaki ilmu, dan dengan menggenggam Ridho Ibu Bapak, mantap untuk
menekuni strata dua. Belajar. Membuka wawasan dan pengetahuan. Lagi.
Maka kemudian, mimpi selanjutnya, 2017, semoga diri ini
mampu menghadirkan kembali senyum bertambah-tambah dari ibu bapak, dihari
tuntasnya strata dua. Pastinya dengan atas izin Allah, dengan atas ridho Allah.
Semua orang tumbuh dan berkembang. Semua orang memilih
jalan apa yang akan ditempuh kedepan. Dan saya, memilih untuk terus belajar
dengan label pebelajar. Jika pilihan-pilihan lain datang seiring waktu
berjalan, semoga Allah kondisikan hati dan diri ini untuk pantas menentukan
pilihan.
Teramat banyak rekam cerita penuh nikmat yang Allah anugrahi setahun belakang, tapi, hanya ini yang mampu sedikit tertuliskan.
Jumat, 25 Desember 2015
Tak usah ada sapa.
Benar saja. Kata, sulit terucap walau sederhana.
Akhirnya, hanya butuh bersua, menatap mata, duduk bersama,
dan tak usah ada sapa.
Iya.
Duduk saja. Bersisihan.
Yang penting bersama. Di waktu yang lama.
Yang lebih lama dari sekadar tegur sapa dijalan.
Yang lebih lama dari sekadar makan bersama.
Iya. Lebih lama dari itu semua.
Sekali lagi, tak apa.. tak usah ada sapa.
Biar mata yang sampaikan pesannya. Karena kata, tak pandai
jujur begitu saja.
Tapi mata, liar ekspresikan semua.
Jadi... Iya. Cukup duduk saja. Bersisihan. Di waktu yang
lebih lama. Sangat lama.
Rabu, 23 Desember 2015
Everyone has growing up
Everyone has growing up. Every one has
choosed their own choice.
Semua orang memilih jalan
hidupnya masing-masing. Semua orang berikhtiar mencari keberkahan hidup yang
Allah kasih lewat caranya masing-masing. Iya, semua orang. Termasuk kami, aku,
dan dua kaka terbaik-kaka tersayang-kaka ketemu gede yang langsung klik ini.
Belum lama mengenal, baru bertemu, dan semua berubah dengan cepat.
Belum lama mengenal, baru bertemu, dan semua berubah dengan cepat.
Mereka, Kak Shofy dan kak
Lisdha.
Hari ini, dari belahan bumi
lain, secara bersamaan di-hari-yang-sama-jam-yang-berbeda, mereka tiba-tiba
mengirimkan secara personal rekam wajah ceria nan bahagia yang menggambarkan
kondisinya terkini.
Yang satu foto bareng anak-anak
Jayapura, bersiap terjun mengabdi untuk jadi pengajar di pelosok Indonesia. Indonesia
Mengajar.
Yang satu foto bareng suami, fresh marriage. /Deuh ~/
Sungguh, bahagia hati
mendapati kabar baik dari mereka, meski nun jauh di sana.
Dan, apa kabar, diri?
Alhamdulillah.. praise to
Allah..
Diri.. masih di bumi Jakarta,
masih dengan jaket hijaunya, memutuskan untuk terus melanjutkan pendidikannya. Sedang mengumpulkan bekal, bersiap
untuk mengisi pos kebijakan pendidikan di Indonesia nantinya. Iya, nanti. Sesaat
lagi. Dengan izin dan ridha Allah. Semoga..
Baik-baik ya kalian..
Kak Shof, semoga kesabaran dan keistiqomahan selalu menyertai, semoga ilmu yang dibagi berkah dan menjadi nilai ibadah..
Kak Lis, semoga sakinah.. mawadah.. warohmah..
Doain adiknya baik-baik selalu ya kakaka :*
Keep in touch ;)
Kita bertebaran di bumi, mencari ridha ilahi,
Memungut ilmu yang bertebaran, menebar amal untuk kebermanfaatan.
Kita mengikuti panggilan hati, ia yang disebut sebagai mimpi.
Kita menjalani qadar Allah, ia yang harus dijalani dengan ikhlas nan penuh kesungguhan jiwa.
..
Dimanapun kaki berpijak, bersama atau berpisah jarak, semoga ukhuwwah ini terus tersulam melalui doa-doa terbaik yang terkirim melalui Langit.
Kalaupun nanti bumi Allah tak ada waktu mempertemukannya lagi, Semoga Syurga Allah yang menjadi tempat berkumpul di kemudian hari. Allahumma Aamiin.
fawats-tsiqillahumma roobithotaha...
Adik yang berbahagia,
Memungut ilmu yang bertebaran, menebar amal untuk kebermanfaatan.
Kita mengikuti panggilan hati, ia yang disebut sebagai mimpi.
Kita menjalani qadar Allah, ia yang harus dijalani dengan ikhlas nan penuh kesungguhan jiwa.
..
Dimanapun kaki berpijak, bersama atau berpisah jarak, semoga ukhuwwah ini terus tersulam melalui doa-doa terbaik yang terkirim melalui Langit.
Kalaupun nanti bumi Allah tak ada waktu mempertemukannya lagi, Semoga Syurga Allah yang menjadi tempat berkumpul di kemudian hari. Allahumma Aamiin.
fawats-tsiqillahumma roobithotaha...
Adik yang berbahagia,
-nad-
Kamis, 17 Desember 2015
Aku (kah) Kamu (?)
Adalah aku, yang duduk menepi, sangat tepi,
hampir jatuh.
Sendiri.
Dan, adalah kamu,
yang tegak berdiri, tengadah ke langit,
dengan kaki mbumi.
Adalah aku, yang sesekali celinguk tak
berteman, seorangan.
Cari kawan.
Dan, adalah kamu,
yang terbahak tertawa, tukar kartu nama,
ramai jabat tangan dengan rekanan.
Adalah aku, yang buka kamus beribu kali,
cari makna dan arti.
Yang ingin bersuara saja rasanya hampir
mati, takut salah takut dicemoohi.
Dan, adalah kamu,
Panggung menjadi kawanan hari-harimu, tebar
suara tanpa ragu. Apatah malu, bahkan semesta menanti lisanmu.
Lantas,
Adakah aku, separuh kamu (?)
...
Jumat, 11 Desember 2015
[RESUME] “RPIM Jilid II ; Di Bawah Naungan Panji Al-qur’an”
Kondisi
Umat Hari ini
·
Berbagai aturan yang mengikat jauh dari
unsur Islam ; Undang-undang kenegaraan, peraturan yang mengatur hubungan
bilateral maupun multilateral dengan negara lain, undang-undang peradilan,
undang-undang pertahanan keamanan dan militer, sistem perekonomian, sistem
pendidikan, hingga undang-undang perkawinan dan kerumahtanggaan dan sistem
perilaku personal,
·
Para pemimpin negara yang tidak bermentalkan
Islam.
·
Masjid-masjid diisi oleh orang-orang tua
(cenderung renta)
·
Bulan ramadhan dipenuhi dengan aktivitas ummat
yang bermalas-malasan
·
Taklid kepada paham westernisasi
Urgensi
Keberadaan Kita
ü
Menanamkan keyakinan kepada semua bangsa
terhadap nilai-nilai Islam.
ü Menegakan
nilai-nilai Islam di negara mayoritas islam (ex : Mesir) sebagai basis
pergerakan ikhwanul muslimin
ü Menegakkan
sistem perundangan dalam negeri, sebagai perwujudan firman Allah Qs. Al-Maidah:
49)
ü Menegakkan
sistem perundangan yang mengatur hubungan negara dengan berbagai bangsa di
dunia untuk mewujudkan firman Allah Q.S Al-Baqarah: 143
ü Menegakkan
hukum peradilan yang berpijak pada ayat Al-Qur;an,
ü Menegakkan
sistem perundangan pertahanan dan keamanan serta militer, untuk merealisasi
anjuran sikap siaga menghadapi perintah yang tertuang dalam Qur'an,
ü Menegakkan
sistem ekonomi yang mandiri untuk mengatur kekayaan alam harta benda, baik bagi
negara maupun pribadi warganya. (Q. S An-Nisa:5 )
ü Menegakkan
sistem pendidikan dan pengajaran dalam rangka memberantas kebodohan, sesuai
dengan pesan Ilahi dalam Qur'an Surat Al-Alaq: 1
ü Menegakkan
undang-undang keluarga dan kerumahtanggaan untuk menciptakan suasana yang
kondusif bagi pendidikan anak di rumah, baik putra maupun putri. (Q.S
At-Tahrim: 6)
ü Menegakkan
sistem perundangan yang mengatur perilaku individu untuk mewujudkan
keberhasilan hidup yang dicita-citakan, sesuai dengan isyarat Qur'an. (Q.S
Asy-Syams)
ü
Menegakkan iklim positif secara umum untuk
melindungi setiap pribadi masyarakat, baik pejabat maupun rakyat, dengan
berpijak pada firman-Nya Q.S Al-Qashash: 77
Bekal
Kita..
v
Iman kepada Allah, pertolongan, dan
dukungan-Nya.
v Iman
kepada panglimanya, beserta ketulusan hati, dan kepemimpinannya,
v Iman
kepada sistem dengan keistimewaan dan keunggulannya.
v Iman
kepada persaudaraan dengan hak dan kewajiban serta kesuciannya.
v Iman
kepada balasan akhirat dengan keagungan dan kelipatannya.
v Iman
kepada keberadaan diri mereka sendiri, yakni sebagai jamaah yang dipilih oleh
takdir untuk berperan menyelamatkan alam semesta ini, yang telah mendapatkan
keutamaan dengan peranannya ini dan jadilah mereka sebaik-baik umat yang dilahirkan
untuk manusia seluruhnya.
v
Jihad, kesungguhan, dan pengorbanan jiwa
raga.
"Dan sesungguhnya,
inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu ikuti
jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.
Yang demikian itu diperintahkan oleh Allah agar kamu bertaqwa," (Al-Anam:
153)
“.....wahai sekalian manusia, kami adalah
pemikiran dan akidah, hukum dan sistem, yang tidak dibatasi oleh tema, tidak
diikat oleh jenis suku bangsa, dan tidak berdiri berhadapan dengan batas
geografis. Perjalanan kami tidak pernah berhenti sehingga Allah swt. mewariskan
bumi ini dengan segala isinya kepada kami, karena ia adalah sistem milik Rabb,
Penguasa alam semesta, dan ajaran milik rasul-Nya yang terpercaya.”
(Hasan Al Banna)
-Nadya Fadillah Fidhyallah-
Langganan:
Postingan (Atom)



