 |
| (Source : Google Image) |
Bismillah,
Well, menggelitik ga judulnya?
Justru, semoga bisa menyinggung
kalian-kalian yang lagi duduk termenung memikirkan masa depan.
Minggu, 24 Maret 2019 pasti
menjadi hari yang tidak akan pernah dilupa seumur hidup. Hari dimana rasanya
ingin selalu bercermin melihat jubah kebanggan yang berhasil ditebus selama
bertahun-tahun (apalagi bagi yang lulusnya telat banget nih, ups.) Hari dimana
emak-bapak-kakak-adek-nenek-kakek semua memperlihatkan rasa bangganya sama
kita. Hari dimana taburan bunga, boneka, coklat, selempang, dan macam rupa lainnya
menjadi hadiah spesial dari rekan sejawat, kakak tingkat, adik tingkat,
siapapun yang mengaku sayang pada kita. Hari dimana (akhirnyaaa) bisa tersenyum
lebar kepada dosen-dosen yang selama ini mempush tanpa henti agar segera menyelesaikan skripsi. Hari yang....
B-a-h-a-g-i-a!
Eiit. Tapi ternyata, euforia
wisuda tak panjang Bung!
Ia hanya bertahan sehari, dua
hari. Kalaupun lebih lama, ia ramai di maya. Semu bung!
Selanjutnya, hidup berjalan normal,
teman-teman yang masih berkutat dengan skripsi, yang sibuk dengan pekerjaan
mengajar di sekolah atau di kantor, masing-masing melanjutkan aktivitasnya, mereka
kembali larut dalam kesibukannya, meninggalkan kita sendirian yang gak tau mau ngapain.
Kalau sudah sampai di momen itu,
maka saatnya Saya bilang, welcome to pasca campuss life, nak :’)
Kamu gak akan bengong-bengong
sendirian, galau mau lanjut kuliah, magang, kerja, atau apapun, kalau kamu sudah
create pasca kampusmu jauh-jauh tahun atau bulan. Tapi, kondisinya,
berbulan-bulan kemarin kamu hanya sibuk mati-matian menyelesaikan skripsi (yang
notabene pasti selesai atas izin Allah), sehingga lupa, ada masa depan yang
lebih harus mati-matian direncanakan.
Well, tapi tulisan ini gak akan
ngajak kamu bergalau-galau ria menyesali waktu yang sudah berlalu.
Belum terlambat jika kamu (baru) mau
memutuskan setelah lulus > kamu mau kemana (?)
KAMU MAU JADI APA?
Kalau ada yang menjawab
pertanyaan di atas dengan jawaban “MAU
JADI ORANG YANG BERMANFAAT BAGI LINGKUNGAN”, maka saya bisa pastikan itu
yang jawab anak SD. (mungkin kalo anak SD zaman sekarang lebih konkrit
jawabannya seperti mau jadi avengers, sampai youtubers. ~)
Salah gak sih jawaban di atas? ENGGAK
SALAH LAH. But, guys, come on!
Pahlawan-pahlawan berbaju orange (re:
Petugas kebersihan) itu mereka sangat amat mulia dan sangat bermanfaat bagi
lingkungan. Silahkan saja melamar di sana, saya kira tak perlu berpayah skripsi mati-matian terlebih dahulu untuk bisa gabung dengan tim mulia itu. (More info sila kunjungi https://regional.kontan.co.id/news/mau-jadi-pasukan-orange-dki-ini-caranya kali aja berminat 😉).
Tapi, kalian sudah sarjana, maka,
nilai kebermanfaatannya akan sangat bisa dikalilipatkan lebih luas, baik secara
kuantitas apalagi kualitas. Maka, hendak jadi apa kita di kemudian hari haruslah
dilatarbelakangi dengan keilmuan kita, yang hari ini sudah certified dengan ijazah di
tangan.
Nah, pertanyaan yang selanjutnyapun
muncul, dengan ijazah yang sudah di tangan, apakah
saya harus segera bekerja? Kalo kerja, kerja apa? Duh, skill belum mumpuni,
ilmu juga masih cetek, apa lanjut lanjut S2 aja dulu ya? Duh, uang dari mana? Pusing
juga kali belajar mulu. Apa, nikah aja kali ya? Ihiw ~
Well guys, semua pilihan di atas
itu baik, sangat baik. Yang ga baik itu kalo kita ga punya pilihan. Sekarang, Mari
kita bedah. Ketika kita mau lanjut kerja, pastikan dulu kita sudah yakin mau
kerja di bidang apa. Mau-sebagai-apa. Jangan sampai kita ga tau nilai dari
ijazah kita. I mean, kita sudah menjadi lulusan S1, setidaknya jangan sekadar ngelamar-di-mana-aja-yang-penting-kerja.
Huft. Ingat, jika kerja sekadar kerja, babi di hutan juga kerja. ~
Kenali potensi diri kamu, keahlian bidang kamu, lalu sasar
lowongan-lowongan pekerjaan yang sesuai bidang kamu tadi. Buat CV semenarik
mungkin, cantumin pengalaman-pengalaman organisasi, pelatihan-pelatihan formal
maupun non formal yang relevan dengan bidang pekerjaan yang kamu tuju. Buat
diri kamu itu seakan-akan “sayang untuk dilewatkan” oleh para HRD yang
perusahaannya kamu lamar.
Tapi, jika kamu merasa ilmu
kamu masih kurang, wawasan kamu masih butuh ditambah, dan kamu rasa pekerjaan
yang mau kamu tuju itu gak cukup dengan cuma ijazah S1, maka lanjut
studi adalah jawabannya. Eits, lanjut studi itu ga selamanya berarti S2,
bisa juga ikut BLK (Balai Latihan Kerja), Short course, magang, PPG, yang semua
itu punya “sertifikat” yang bisa menambah standar nilai kamu. Jika S2 adalah
pilihan lainnya, maka kamupun harus (lagi-lagi) tau pekerjaan apa yang mau kamu
tuju kelak, sehingga S2 yang kamu ambilpun haruslah relevan dengan bidang tersebut.
Berbagi cerita sedikit ya, saya,
dari SMA ingin jadi dosen. Maka singkat cerita, saya breakdown strategi
how to be a lecture, dan hal yang pasti paling menjadi syarat untuk menjadi
dosen adalah S2, maka lulus kuliah saya langsung putuskan untuk lanjut studi.
Studi di bidang apa? Sesuai yang sy tuliskan sebelumnya, yaitu telusuri
potensi yang sesuai background akademik. Saya yakini bahwa potensi saya ada
pada bidang pendidikan, maka sy pilih bidang studi pendidikan.
Jadi rumusnya, goal besar > bidang > teknis
Kalo balik lagi ke kisah saya di
atas
Goal besarnya -> BERMNAFAAT
BAGI UMAT
Bidangnya -> PENDIDIKAN
Teknisnya -> ya.. jadi DOSEN.
Harapannya, semoga dengan saya
jadi dosen, tanda tangan saya bisa bermanfaat bagi mahasiswa dengan segudang
aktivitas kebaikannya, penelitian saya bisa bermanfaat bagi lingkungan,
materi-materi yang mengalir dari lisan saya bisa menjadi ilmu yang bermanfaat
bagi audience yang mendengar.Jadi orientasi hidup kita akhirat,
tapi tetap dengan dunia yang juga gak ketinggalan. Ma syaa Allaah.. Laa
hawla wa laa kuwwata illah billah.
Sssst. Rahasia nih.
Untuk yang mau lanjut S2 tapi
bingung sama biaya. Saya punya rahasia, yang ini ASLI banget dialamin sama saya
dan orang-orang di sekitar saya. Apa itu? Komunikasikan niat baik kamu yang
mau S2 ke orang tua, lalu minta-ridho-mereka.
Minta ridho yang tulus ikhlas dari orang tua. Selebihnya gausah khawatir ga ada
biaya, insya Allah kamu S2 dengan ridho orang tua yang sudah kamu kantongi. Selanjutnya,
teteplah ikhtiar (jangan juga cuma duduk manis di rumah aja lhoh ya). Ikhtiar cari
beasiswa, ikhtiar maksimal gausah ngeluh gausah khawatir. Ikhtiar ini sebagai bentuk ibadah kita kpd Allah. Perkara hasil? Allah yang atur. Kalau orang
tua ridho, insya Allah kamu berangkat! S2 dalam negeri bahkan luar
negeri. Karena yang berangkatin kita itu Allah, bukan beasiswa, Bukan! karena ia tak lebih hanya sbg perantara saja, bukan PENENTU S2 atau enggaknya kita. Ingat, ridho Allah
itu ada pada ridho orang tua. Rumusnya, YAKIN! Insya Allah, Allah yang
berangkatin lewat manapun caranya.
SETIAP ORANG PUNYA MASANYA MASING-MASING. PUNYA ZONA WAKTUNYA
MASING-MASING.
Menuju akhir tulisan, saya perlu
ingatkan bahwa kita semua itu punya zona waktu masing-masing. Sekalipun kembar
identik, sangat mungkin sekali fase keberhasilannya tidak berbarengan. Apalagi
dia yang kita iri-in, sedarah aja enggak, apa lagi se daging (apasih). Pastilah
takdir hidup masing-masing kita berbeda. Jadi, jangan pernah jadikan keberhasilan
orang menjadi tolak ukur keberhasilan kita. Salah besar jika kamu
berpikir demikian. Setiap pahlawan punya masanya masing-masing, dan setiap masa
ada pahlawannya masing-masing. Gak usah gundah gulana sama keberhasilan orang
lain, tapi gundah gulana resah gelisahlah kalau kita ga memulai untuk menjemput keberhasilan
kita sendiri.
(Dan, tambahan nih, mau lanjut KERJA, S2, atau bahkan berWIRAUSAHA, pilihlah sesuai dgn passion kamu. KEBERHASILAN akan mudah diraih kalo kita jalanin apa yang kita cintai. ❤)
Mau jadi apapun kamu, kita,
pastikan berangkat dari niat “Beribadah kepada Allah. Bergerak bermanfaat karena
Allah”. Karena, rugi banget kalau capek-capek kita bekerja, pusing-pusing
kita belajar, tapi itu ga dinilai ibadah di sisi Allah. Padahal, belajar dan
bekerja itu masuk dalam kategori amal kebaikan yang kalau kita “gugur” di jalan
itu, maka syahid statusnya. Ma syaa Allah.
Last but not least, saya tutup
dengan sebuah hadits pamungkas yang semoga selalu menjadi tazkiroh bagi kita
semua.
“Tidaklah bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat,
sehingga ditanyakan tentang 4 perkara:
Pertama, tentang
umurnya dihabiskan untuk apa.
Kedua, tentang ilmunya
diamalkan atau tidak.
Ketiga, Tentang
hartanya, dari mana dia peroleh dan ke mana dia habiskan.
Keempat, tentang
tubuhnya, capek / lelahnya untuk apa.”
(HR Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya dan Tirmidzi rahimahullahmengatakan hadits
ini hasan shahih. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ad-Darimi rahimahullah di dalam Sunan-nya, dan lainnya.
Ada juga diriwayatkan dari sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu
‘anhu. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam
kitabnya, Silsilah
Al-Ahadits Ash-Shahihah.)
EPILOG
Selamat mendalami diri
sendiri untuk menentukan pilihan hidup yang ada di depan mata. Terakhir, jika
sudah galau banget, maka
istikhorohlah, minta petunjuk Allah. Pamungkas banget dah langkah itu.
Apapun pilihanya, pastikan itu
bisa mengantarkan kita ke JannahNya ya. Aamiin.
Well, Thats all. Mohon maaf lahir
dan batin jika ada kata dalam tulisan di atas yang kurang berkenan, dan
terimakasih karena sudah mau membaca tulisan panjang yang mungkin faedahnya hanya
sedikit.
Segala nasihat di atas ditujukan
untuk saya yang juga masih butuh dinasihati dan dimotivasi.
Sekian,
Salam semagat-bergerak-bermanfaat
dari BuNad, si Dosen (muda) UNJ yang baru memulai merintis karir. Mohon doanya
ya. 😊