Sabtu, 27 Juni 2015

"Puang Ake"




Nama panggilan para cucu : puang ake ('puang', istilah dalam bahasa bugis, panggilan yg sopan kpd yg lbh tua, dan 'ake', emmmm.... panggilan imut dr cucu2nya, kependekan dr 'kakek' ~)

Usia : >80tahunan, gada yg tau pasti tahun berapa beliau lahir *kemudian hening*

Ciri Khas : Berbaju putih dan berpeci

Kebiasaan : Sholat Awal Waktu. akan gelisah ketika sdh mendekati jam2 sholat. Thats why, beliau selalu pake jam tangan ~
dan, Mengaji. Dengan suara beratnya, dan-tanpa-bantuan-kacamata, beliau rutin mengaji. Rutin sekali.

Kondisi Fisik : "Prima" diusianya ~ masih bisa mengayuh sepeda dgn jarak yg lumayan...... lumayan bikin beliau sampe pernah lupa rute jalan balik ke rumah.

Pendengaran juga semakin berkurang. Seru, harus teriak kl ngobrol sama beliau.

*Dan, masih banyak lagi tentang beliau.*

----
Teladan yg sampai hari ini menginspirasi para cucu (((terkhusus saya))) adalah...

walau tergopoh, walau tertatih, walau utk turun sujud dan bangun dr tahiyat butuh waktu yg lbh lama, Shalat baginya harga mati. Bahkan, Shalat-Awal-Waktu baginya harga mati. Terlebih lagi, Shalat-Awal-Waktu-Di-Masjid baginya harga mati (ketika bisa, pasti beliau ke masjid).

Itu nasihat beliau.
Nasihat yg tak pernah terucap, tapi langsung lewat sikap, langsung lewat teladan.

Semoga Alloh selalu beri beliau kesehatan. Aamiin.

‪#‎Day‬-10
‪#‎RamadhanMubarrok‬
‪#‎BagiKisahDikit‬
‪#‎SemogaInspiratip‬

Selasa, 09 Juni 2015

Debu


Gemuruh angin bergilir lari,
sesatkan debu, terbawa sepi
ia berpindah, dari tanah ke tanah
sesaat disini, nanti lusa disana.
tak ada tempat pastinya,
ia bergulir terbawa angin.
menempel, menyelimuti pernak mewah.
Kurangi estetika. Hanya jadi benalu saja.
Prinsippun tak ada,
hanya pasrah ikuti angin membawa,

Debu, itulah dia.

Lalu, kamu mah apa? butiran debu?
Jangan, ia kotor nan mengganggu.
Yang Kuasa cipta kita untuk jadi Khilafah, sangat mulia.
Lalu kamu? Mendebu? hanya bentuk merendah, tak ada syukur, sungguh Allah tak suka.

..
Debu,
cukup biarkan angin membawa ia berlalu.

Kamis, 28 Mei 2015

Dakwah itu..

Dakwah itu..
Aku.
Aku dan perubahanku.
Aku dan merapuhnya egoku.
Aku dan hilangnya kelamku.
Aku dan lepasnya kesendirianku.
Aku dan hidup baruku.
Aku dan.... hijrah ku.

Dakwah itu..
Kamu.
Kamu dan kesetiaanmu.
Kamu dan keluanganmu.
Kamu dan ketotalitasanmu.
Kamu dan ajakan kebaikanmu.
Kamu dan keistiqomahanmu.
Kamu dan rangkulan tanganmu.
Kamu dan.... sabarmu.

Dakwah itu..
Kita.
Kita dan asa perubahan.
Kita dan cita kemenangan.
Kita dan rasa keoptimisan.
Kita dan visi kejayaan.
Kita.... genggam  peradaban.

Bersegeralah dalam laku dakwah!
tak ada spesial untuk kamu atau dia,
karena dakwah, panggung siapa saja.
Siapa saja.... yang siap berpeluh perih menjalaninya,
demi Syurga tempat akhir kembalinya.

Salam,
saudari yang selalu ingin membersamaimu dalam dakwah,
@nadya_ff

Rabu, 06 Mei 2015

Sajak sederhana


Aku..
ini bukan tentang mahakarya Chailil Anwar, yang sampai liar bicara binatang jalang..
ini hanya tentang rengekan sajak.. yang menjadi penuang lisan yang tak mampu terucap.

Duhai.. ku tuliskan ini penuh cinta, berharap sampailah pesan kepada yang tercinta... karena sang Rasul mahir membuktikan, bahwa yang dari hati, sampailah ia pada si hati.

Duhai.. Sajakku ini sederhana.
Duduklah sejenak, baca lamat-lamat. 

Duhai.. Sajakku ini sederhana, 
tentang khawatirku pada dirimu,
tentang kecemburuanku dengan mereka,
tentang keluangan waktumu yang hampir punah,

Sungguh.. Sajakku ini teramat sederhana,
tentang persaudaraan yang kian kuat terasa,
tentang kecintaan yang berbalut mesra karena Allah,
tentang senyum tawa yang tak ada duka,

Sajak ku ini sederhana, hanya berisi pesan berbalut cinta... 
"baik-baiklah dirimu selalu, jaga kesehatan, jangan telat makan. 
Jika kau cari tawa, hubungi Aku yang pertama-tama. 
Jika kau ingin buang lelah, adalah Aku setia menampungnya,
Aku disini.. sungguh tak rela melihatmu berperih.. "
Sudah. Itu saja. 

Pantaslah sang Buya mencintai sastra.. karena lewat tulisan, tersimpan ekspresi yang malu dimuarakan.


Aku, 
sang budak sajak, yang hanya (ter)bebas(kan) dalam tulisan.

Minggu, 12 April 2015

Kupilih berjama'ah..

Tau kah kamu, 
Sendiriku Lemah.. maka ku pilih berJamaah, 
Beramai kita Berdakwah, Bersama kita pikul Amanah, 
Nikmati ukhuwwah, hingga tibalah kaki ini di Jannah. 

.. 
Mari perkuat tekad.. pererat barisan ummat, 
Jika perlahan satu dua amanah hinggap, tak perlu merasa gagap, karena toh kita terlahir hebat,
"Kuntum khoiro ummah.." jelas ditujukan pada kita, sobat. 

.. 
Semangat perbaharui niat, 
Semangat bermanfaat, untuk mu yang membaca dengan tak sengaja lewat,

dari Saudarimu dijalan dakwah, 
-nad-

===
@nadya_ff

Kamis, 19 Maret 2015

Indonesia, Tanah Air Beta..


Indonesia, Tanah Air Beta..
Permai nan hijau pemandangannya,
Bersih nan rapih tata kotanya,
Harmonis nan bertanggung jawab pemerintahannya,
Edukatif nan menarik media-medianya,
Adil nan amanah pemimpin-pemimpinnya,
Sejahtera nan makmur rakyat-rakyatnya,
Anak-anaknya ceria.. remajanya santun nan ramah.. dewasanya mandiri penuh karya.
Bahagia, aku disana.

..
Indonesia, Tanah Air Beta..
Koruptor (dibiarkan) merajalela,
Harga BBM naik disulap jadi mini drama penipu masa,
Keamanan terenggut atas nama Begal dimana-mana,
Liberalisme melebur, menari indah atas nama MEA,
Pendidikan kian keropos sistemnya,
Pemerintahannya pandai berdrama, memainkan media sebagai panggungnya, kepentingan sebagai skenarionya, dan kekuasaan sebagai harga capaiannya..
Rakyatnya sengsara.. Mati sendiri. tak ada yang peduli.
Anak-anaknya bergaya remaja.. Remajanya berlagak dewasa.. peringainya lebih tua dari sang usia.
Bahagia(kah), aku disana (?)

..
Indonesia, Tanah Air Beta..
Sampai kapan Indonesia Beta sengsara,
Katanya Merdeka tapi nyatanya terjajah,
Asing berkuasa, rakyat menjadi budak tak terbantah,
Jkw-JK (katanya) adalah Kita.. padahal nyatanya kian (menjadi) Mereka.
Mereka sibuk sendiri, Kita sengsara sendiri.
..

Indonesia, seakan bukan Tanah Air Beta..
..
Atau, Indonesia, memang (sudah) bukan Tanah Air Beta (?)

---
*Bait pertama adalah angan
*Bait kedua adalah kenyataan
*Bait ketiga adalah kemarahan
Powered By Blogger