Sang aktor pendidikan resah. Agak ironis memang, kala bicara sistem pendidikan.
Mereka berpayah mencari solusi,
pusing bicara masalah itu, masalah ini,
Meminta gaji, namun berbentur dengan kata abdi.
Berkeluh menderita karena pelik dengan sistem yang ada, dibilang lemah dan malah diancam copot jabatan,
Kasian.
Tapi ya..
Sistem, terus berlari.
Siksa mereka sebagai pelaku utama,
yang tak sesuai dengan norma-norma lapangan yang ada.
Teori dan aturan yang lahir, mereka pun sangsi.
Itu lahir dari mulut siapa? landasannya apa?
Bisa-bisanya beda dengan dunia nyata.
1 + 1 = 2, tapi dengan sistem, hasilnya ya... suka-suka. Haha.
Lalu kebijakan,
dimana bijaknya?
Jika ada proyek proyek.. Tender tender raksasa (di-balik-layar) yang isinya hanya degredasi moral yang semua tutup mata.
Alangkah lucunya,
Mereka punya visi yang sama... mencerdaskan kehidupan bangsa.
Cerdas seperti apa? Huh. Entah.
Tapi visi hanyalah visi,
jika para aktor lapangan hanya disuap sistem tak ada arti.
Tapi tenang, Pak, Bu Mentri.
Mereka resah.. mereka pundung hanya sekadar pundung,
toh marahnya mereka, kian memotivasi untuk berbuat lebih.
Biar mereka bekerja dengan caranya. Bekerja karena ingin anak cucu Indonesia menjadi manusia yang seutuhnya.
Melayani negeri, mendidik para peretas mimpi, dengan suguhan ilmu tanpa politisasi.
Murni, dengan ketulusan hati.
Tekad mereka tak lebih berujar bahwa perjuangan ini, biar berhenti sendiri saat matinya denyut nadi. Perjuangan ini, Per(juang)an tentang pen(cerdas)an ke(hidup)an bangsa.
...
Pendidikan Indonesia, riwayatmu kini...
------------
@nadya_ff
Minggu, 27 September 2015
Senin, 03 Agustus 2015
Yang Pemuda.. Yang Mahasiswa.. Yang Berorganisasi
“Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya …
Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia”
-Ir. Soekarno-
Sang Orang nomor satu kala itu, dipidatonya lantang menyebut-nyebut kita.
Kita?
Iya, Kita.. Pemuda.
Pemuda adalah sosok penggerak perubahan. Di dalam jiwanya penuh dengan keliaran potensi yang meletup-letup ingin disaluri. Di dalam asanya penuh dengan rajutan mimpi yang berlomba untuk dijadikan aksi. Semua itu dibalut dalam “almamater” pemuda. Bukankah ini semua menceritakan tentang engkau? Tentang kita?
Bicara tentang pemuda, menurut UU Kepemudaan nomor 40 tahun 2009 menegaskan tentang batasan usia pemuda Indonesia yakni 15 sampai dengan 30 tahun. Sementara itu, menurut Psikolog Roslina Verauli, pemuda yang adaktif dan dituntut untuk lebih produktif berada di kisaran umur 17 hingga 21 tahun. Disisi lain, menurut Elizabeth Hurlock (Developmental Psychology, 1991), mengatakan bahwa mereka yang tergolong dewasa awal (re : pemuda), ialah mereka yang berusia 20-40 tahun. Orang dewasa muda termasuk masa transisi, baik secara fisik, transisi secara intelektual serta transisi peran sosial. Perkembangan sosial masa dewasa awal adalah puncak dari perkembangan sosial masa dewasa. Masa dewasa awal adalah masa beralihnya pandangan egosentris menjadi sikap yang empati. Pada masa ini, penentuan relasi sangat memegang peranan penting. Hurlock (1986) mengemukakan beberapa karakteristik dewasa awal dan pada salah satu intinya dikatakan bahwa dewasa awal merupakan suatu masa penyesuaian diri dengan cara hidup baru dan memamfaatkan kebebasan yang diperolehnya. Deretan angka usia di atas sudah cukup menjadi bukti bahwa kita adalah objek dari itu semua, yang secara berjalannya waktu menjadi seorang ‘pemuda’ pasti akan kita lalui. Maka sampai baris ini, yakinlah bahwa kita memang Pemuda.
Namun disisi lain, ada satu label baru yang tersematkan dalam pundak kita. Titel kebanggan pemuda yang tak semua bisa merasakannya. Titel ini kita yang memilih secara sadar dan tanpa paksaan. Ialah, Mahasiswa. Titel yang diraih bukan dengan begitu saja, tapi dengan perjuangan dan harapan.
Menjadi seorang mahasiswa adalah sebuah kesempatan emas yang tidak semua pemuda bisa merasakannya. Adalah Kita, yang hari ini teramat sangat beruntung mampu berkesempatan menjadi Mahasiswa itu. Adalah Kita, sang Pemuda, sang Mahasiswa. Maka apakah titel ini akan dibiarkan berlalu begitu saja? Akankah titel baru kita ini akan hanya diisi dengan -masuk kelas-duduk mendengarkan ceramah dosen-mengerjakan segala tugas- saja?
Karena Adalah Kita, yang hari ini sebenarnya disebut-sebut oleh Ir. Soekarno sebagai pengguncang dunia itu. Melalui titel mahasiswa, kita berkesempatan mengeksplorasi segala potensi, segala pemikiran hebat, segala softskill yang kita miliki. Salah satunya ialah lewat organisasi. Ya, Organisasi.
Kampus diibaratkan sebagai laboratorium kehidupan. Dianalogikan demikian karena kita memiliki kesempatan mecoba apapun di dalamnya. Ingin menjadi wirausaha? Maka tidak ada yang melarang untuk kita membuka lapak usaha di kampus, menjajakan ‘barang jualan’ ke teman-teman sepergaulan. Ingin menjadi negarawan? Maka menjadi pengurus organisasi adalah bentuk uji cobanya. Kampus dirasa hidup bagi sang pemuda bertitel mahasiswa adalah ketika terus berdenyutnya kajian-kajian politik kampus, diskusi publik, seminar kepemimpinan, dan semacamnya dengan tetap menunaikan kuliah dengan disiplin. Organisasi mengajarkan kita ilmu softskill, bagaimana berbicara di depan umum, bagaimana melatih simpati dan empati, bagaimana bernegosiasi dengan baik, bagaimana mengatur agenda tingkat jurusan bahkan mungkin hingga tingkat nasional, dan bagaimana bisa menjadi orang yang bermafaat bagi urusan orang lain. Organisasi juga menambah wawasan ilmu sosial, pun juga menambah relasi pertemanan. Organisasi mengajarkan apa yang tidak kita temukan di dalam kelas. Dalam satu kesempatan, Anies Baswedan pernah berujar bahwa “IP (Indeks Prestasi)” kita hanya mampu mengantarkan pada meja interview suatu perusahaan, semakin tinggi IPnya semakin kita bisa mendaftarkan diri pada perusahaan besar. Namun perhatikan.... IP-hanya-mengantarkan-pada-‘mejanya’-saja, untuk bisa berhasil atau tidaknya, lanjut Anies Baswedan, salah satunya tergantung dari kemampuan berbicara kita, riwayat kemampuan manajerial kita. Dan apakah hal-hal tersebut secara rutin dapat kita raih hanya dari dalam kelas? Tidak, kawan.
Maka dari itu ada dua makna yang dapat diambil, yaitu akademik tetap menjadi nomor satu, dan organisasi, menjadi pendampingnya selalu.
Maka akhirnya, dapat lah kita sulam benang merah yang ada, bahwa ‘Pemuda’ yang lantang bung Karno nantikan hadirnya adalah Kita... Kita, si Pemuda yang kini baru menjadi Mahasiswa, yang akan siap turun ke jalan kala ketidakadilan menindas rakyat, yang akan siap menyibukan dirinya dalam agenda-agenda kebermanfaatan, yang akan siap menjadi akademis yang peka sosial.
Maka, selamat teruntuk Kamu, yang kini tersematkan satu titel kebanggan di pundakmu. Titel yang tak bisa diraih setiap pemuda, kini ia dengan mantap menjadi status barumu. Juga, Selamat memasuki gerbang organisasi, yang ia pasti akan sangat engkau cari, untuk eksplorasi kebermanfaatan diri.
Ditulis oleh seorang yang sangat beruntung berkesempatan bisa menyibukan dirinya dalam kesibukan organisasi,
Nadya Fadillah Fidhyallah
Sabtu, 27 Juni 2015
"Puang Ake"
Nama panggilan para cucu : puang ake ('puang', istilah dalam bahasa bugis, panggilan yg sopan kpd yg lbh tua, dan 'ake', emmmm.... panggilan imut dr cucu2nya, kependekan dr 'kakek' ~)
Usia : >80tahunan, gada yg tau pasti tahun berapa beliau lahir *kemudian hening*
Ciri Khas : Berbaju putih dan berpeci
Kebiasaan : Sholat Awal Waktu. akan gelisah ketika sdh mendekati jam2 sholat. Thats why, beliau selalu pake jam tangan ~
dan, Mengaji. Dengan suara beratnya, dan-tanpa-bantuan-kacamata, beliau rutin mengaji. Rutin sekali.
Kondisi Fisik : "Prima" diusianya ~ masih bisa mengayuh sepeda dgn jarak yg lumayan...... lumayan bikin beliau sampe pernah lupa rute jalan balik ke rumah.
Pendengaran juga semakin berkurang. Seru, harus teriak kl ngobrol sama beliau.
*Dan, masih banyak lagi tentang beliau.*
----
Teladan yg sampai hari ini menginspirasi para cucu (((terkhusus saya))) adalah...
walau tergopoh, walau tertatih, walau utk turun sujud dan bangun dr tahiyat butuh waktu yg lbh lama, Shalat baginya harga mati. Bahkan, Shalat-Awal-Waktu baginya harga mati. Terlebih lagi, Shalat-Awal-Waktu-Di-Masjid baginya harga mati (ketika bisa, pasti beliau ke masjid).
Itu nasihat beliau.
Nasihat yg tak pernah terucap, tapi langsung lewat sikap, langsung lewat teladan.
Semoga Alloh selalu beri beliau kesehatan. Aamiin.
#Day-10
#RamadhanMubarrok
#BagiKisahDikit
#SemogaInspiratip
Nasihat yg tak pernah terucap, tapi langsung lewat sikap, langsung lewat teladan.
Semoga Alloh selalu beri beliau kesehatan. Aamiin.
#Day-10
#RamadhanMubarrok
#BagiKisahDikit
#SemogaInspiratip
Selasa, 09 Juni 2015
Debu
Gemuruh angin bergilir lari,
sesatkan debu, terbawa sepi
ia berpindah, dari tanah ke tanah
sesaat disini, nanti lusa disana.
tak ada tempat pastinya,
ia bergulir terbawa angin.
menempel, menyelimuti pernak mewah.
Kurangi estetika. Hanya jadi benalu saja.
Prinsippun tak ada,
hanya pasrah ikuti angin membawa,
Debu, itulah dia.
Lalu, kamu mah apa? butiran debu?
Jangan, ia kotor nan mengganggu.
Yang Kuasa cipta kita untuk jadi Khilafah, sangat mulia.
Lalu kamu? Mendebu? hanya bentuk merendah, tak ada syukur, sungguh Allah tak suka.
..
Debu,
cukup biarkan angin membawa ia berlalu.
Kamis, 28 Mei 2015
Dakwah itu..
Dakwah itu..
Aku.
Aku dan perubahanku.
Aku dan merapuhnya egoku.
Aku dan hilangnya kelamku.
Aku dan lepasnya kesendirianku.
Aku dan hidup baruku.
Aku dan.... hijrah ku.
Dakwah itu..
Kamu.
Kamu dan kesetiaanmu.
Kamu dan keluanganmu.
Kamu dan ketotalitasanmu.
Kamu dan ajakan kebaikanmu.
Kamu dan keistiqomahanmu.
Kamu dan rangkulan tanganmu.
Kamu dan.... sabarmu.
Dakwah itu..
Kita.
Kita dan asa perubahan.
Kita dan cita kemenangan.
Kita dan rasa keoptimisan.
Kita dan visi kejayaan.
Kita.... genggam peradaban.
Bersegeralah dalam laku dakwah!
tak ada spesial untuk kamu atau dia,
karena dakwah, panggung siapa saja.
Siapa saja.... yang siap berpeluh perih menjalaninya,
demi Syurga tempat akhir kembalinya.
Salam,
saudari yang selalu ingin membersamaimu dalam dakwah,
@nadya_ff
Aku.
Aku dan perubahanku.
Aku dan merapuhnya egoku.
Aku dan hilangnya kelamku.
Aku dan lepasnya kesendirianku.
Aku dan hidup baruku.
Aku dan.... hijrah ku.
Dakwah itu..
Kamu.
Kamu dan kesetiaanmu.
Kamu dan keluanganmu.
Kamu dan ketotalitasanmu.
Kamu dan ajakan kebaikanmu.
Kamu dan keistiqomahanmu.
Kamu dan rangkulan tanganmu.
Kamu dan.... sabarmu.
Dakwah itu..
Kita.
Kita dan asa perubahan.
Kita dan cita kemenangan.
Kita dan rasa keoptimisan.
Kita dan visi kejayaan.
Kita.... genggam peradaban.
Bersegeralah dalam laku dakwah!
tak ada spesial untuk kamu atau dia,
karena dakwah, panggung siapa saja.
Siapa saja.... yang siap berpeluh perih menjalaninya,
demi Syurga tempat akhir kembalinya.
Salam,
saudari yang selalu ingin membersamaimu dalam dakwah,
@nadya_ff
Rabu, 06 Mei 2015
Sajak sederhana
Aku..
ini bukan tentang mahakarya Chailil Anwar, yang sampai liar bicara binatang jalang..
ini hanya tentang rengekan sajak.. yang menjadi penuang lisan yang tak mampu terucap.
Duhai.. ku tuliskan ini penuh cinta, berharap sampailah pesan kepada yang tercinta... karena sang Rasul mahir membuktikan, bahwa yang dari hati, sampailah ia pada si hati.
Duhai.. Sajakku ini sederhana.
Duduklah sejenak, baca lamat-lamat.
Duhai.. Sajakku ini sederhana,
tentang khawatirku pada dirimu,
tentang kecemburuanku dengan mereka,
tentang keluangan waktumu yang hampir punah,
Sungguh.. Sajakku ini teramat sederhana,
tentang persaudaraan yang kian kuat terasa,
tentang kecintaan yang berbalut mesra karena Allah,
tentang senyum tawa yang tak ada duka,
Sajak ku ini sederhana, hanya berisi pesan berbalut cinta...
"baik-baiklah dirimu selalu, jaga kesehatan, jangan telat makan.
Jika kau cari tawa, hubungi Aku yang pertama-tama.
Jika kau ingin buang lelah, adalah Aku setia menampungnya,
Aku disini.. sungguh tak rela melihatmu berperih.. "
Sudah. Itu saja.
Pantaslah sang Buya mencintai sastra.. karena lewat tulisan, tersimpan ekspresi yang malu dimuarakan.
Aku,
sang budak sajak, yang hanya (ter)bebas(kan) dalam tulisan.
Rabu, 22 April 2015
Langganan:
Postingan (Atom)






















